Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua mulai disibukkan dengan satu pertanyaan penting, yaitu lingkungan belajar seperti apa yang paling tepat untuk anak?
Bukan hanya soal kualitas akademik, tetapi juga apakah sekolah atau pusat pengayaan mampu menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung setiap anak untuk berkembang sesuai kebutuhannya.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran akan keberagaman cara belajar anak. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat lebih dari 2,4 juta anak di Indonesia hidup dengan autisme, sementara prevalensi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) diperkirakan mencapai 3–5 persen dari populasi anak usia sekolah.
Di sisi lain, semakin banyak lembaga pendidikan yang mengusung label 'inklusif'. Namun, tidak semuanya benar-benar menerapkan prinsip inklusivitas dalam praktik sehari-hari.
Psikolog sekaligus Coach di Atelier of Minds, Irma Ivana Christiani, S.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa orang tua perlu memahami makna inklusivitas yang sesungguhnya sebelum memilih lingkungan belajar bagi anak.
"Inklusi bukan sekadar kebijakan penerimaan. Inklusi adalah cara sebuah tempat merancang lingkungan, memilih pendekatan, dan melatih timnya, setiap hari, untuk setiap anak. Orang tua berhak tahu perbedaannya," ungkap Irma, dikutip dari keterangan resminya, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, lingkungan belajar yang benar-benar inklusif selalu dibangun di atas fondasi profesional yang kuat. Orang tua sebaiknya tidak ragu menanyakan apakah ada psikolog, terapis okupasi, atau ahli perkembangan anak yang terlibat aktif dalam merancang kurikulum maupun pendekatan pembelajaran sehari-hari.
Keterlibatan para ahli tersebut bukan sekadar formalitas yang tercantum dalam brosur, melainkan harus benar-benar terasa dalam pelaksanaan program.
"Perspektif psikolog dalam perancangan program bukan hanya relevan untuk anak berkebutuhan khusus. Pemahaman tentang bagaimana anak belajar, memproses informasi, dan meregulasi diri justru membuat lingkungan belajar lebih kaya untuk semua anak," jelas Irma.
Baca Juga: Cara Menjaga Rutinitas Anak Neurodivergent saat Libur Sekolah, Ini Tips dari Ahli
Irma juga mengingatkan orang tua agar tidak mudah percaya hanya karena sebuah sekolah atau pusat pengayaan mengklaim diri sebagai lembaga inklusif.
Inklusivitas yang sesungguhnya tercermin dari bagaimana anak-anak dengan beragam profil belajar dapat tumbuh dan belajar bersama dalam keseharian, dengan dukungan yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing, bukan dipisahkan ke dalam kelas khusus yang justru menciptakan segregasi.
Selain itu, lingkungan belajar yang baik akan mengenali setiap anak sebagai individu yang unik. Proses mengenali karakter, kekuatan, tantangan, hingga perkembangan anak dilakukan secara berkelanjutan sehingga program yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhannya.
Orang tua pun tidak hanya menerima laporan berupa nilai atau daftar pencapaian, tetapi juga mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan anak.
"Setiap anak membawa kekuatan dan tantangannya masing-masing. Tanpa pemahaman individual yang mendalam, program terbaik sekalipun hanya akan efektif bagi anak-anak yang sudah mudah beradaptasi. Anak yang paling membutuhkan dukungan justru sering kali paling tidak terlihat dalam sistem yang tidak dirancang untuk mereka," tutur Irma.
Menurutnya, budaya inklusif juga dapat dilihat dari cara para pendidik berbicara mengenai anak yang dianggap ‘sulit’. Apabila perilaku anak dipandang sebagai bentuk komunikasi yang perlu dipahami, bukan sekadar masalah yang harus dikendalikan, maka hal tersebut menunjukkan adanya penghargaan terhadap kebutuhan dan kondisi setiap anak.
Cara pandang seperti inilah yang menjadi fondasi utama terciptanya lingkungan belajar yang benar-benar inklusif.
Tak kalah penting, Irma menekankan bahwa orang tua seharusnya diposisikan sebagai mitra dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Sekolah atau pusat pengayaan yang berkualitas tidak hanya berfokus pada proses belajar di dalam kelas, tetapi juga secara rutin berbagi perkembangan anak kepada orang tua serta memberikan strategi yang dapat diterapkan di rumah agar proses belajar berjalan secara berkesinambungan.
"Apapun yang dibangun di lingkungan belajar hanya akan berlipat ganda dampaknya jika ada kesinambungan di rumah. Orang tua adalah mitra kami yang paling penting, karena merekalah yang paling mengenal anak mereka," pungkas Irma.
Baca Juga: Atelier of Minds: Mendorong Pendidikan Inklusif dan Membantu Anak Neurodivergent Menemukan Bakatnya