Guru Besar Kepemimpinan Bisnis di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Donald Crestofel Lantu, mengatakan bahwa kepemimpinan di Indonesia banyak dipengaruhi oleh kultur power of distance yang menempatkan pemimpin pada posisi sangat tinggi.

Donald Lantu menjelaskan, budaya tersebut menyebabkan para pemimpin cenderung sulit menerima kegagalan. Hal itu karena terdapat anggapan bahwa seorang pemimpin tidak boleh melakukan kesalahan apalagi mengalami kegagalan.

Baca Juga: Psikolog: Pemimpin Masa Kini Harus Jadi Storyteller, Bukan Sekadar Bos

"Power of distance tersebut mejadi barrier bagi pemimpin di Indonesia sehingga pada saat mereka melakukan kesalahan atau gagal, itu akan menjadi sesuatu yang bisa meruntuhkan egonya," pungkas Donald kepada Olenka beberapa waktu lalu, dikutip pada Senin (6/7/2026).

Donald menambahkan, kondisi tersebut memosisikan seorang pemimpin sebagai panutan atau bahkan tak jarang dianggap sebagai manusia setengah dewa. Alhasil, muncul ekspektasi bahwa seorang pemimpin itu adalah orang hebat yang tidak pernah gagal.

Ia menilai kondisi tersebut menjelaskan alasan budaya malu dan sikap siap mengundurkan diri apabila terjadi kekeliruan maupun kegagalan di organisasi masih kurang populer di kalangan pemimpin di Tanah Air.

"Ini yang kemudian membuat pemimpin yang dalam kenyataannya membuat kesalahan dan pernah gagal menghadapi blocking secara mental yang membuat mereka tidak akan mundur atau mengakui hal tersebut karena akan membuat ekspektasi yang terbangun menjadi runtuh," tutupnya.