Kepunahan umumnya dikaitkan dengan satwa atau tumbuhan. Namun, ancaman serupa juga dialami berbagai makanan tradisional di dunia yang mulai kehilangan bahan baku, teknik pembuatan, hingga penerus yang mampu melestarikannya.

Laporan yang disusun Intrepid Travel bersama sejumlah pakar kuliner dunia mengungkap daftar 10 makanan yang terancam punah. Hidangan-hidangan tersebut dinilai menghadapi ancaman akibat perubahan lingkungan, pergeseran budaya, hingga semakin sedikitnya orang yang menguasai teknik pembuatannya.

Pakar pangan dan jurnalis asal Inggris, Dan Saladino, mengatakan makanan merupakan bagian penting dari sejarah dan identitas suatu bangsa. Karena itu, hilangnya makanan tradisional berarti hilangnya warisan budaya yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.

Secara umum, makanan dalam daftar ini dikelompokkan ke dalam tiga kategori ancaman, yaitu keterbatasan bahan baku akibat perubahan lingkungan, memudarnya tradisi memasak karena modernisasi dan pariwisata massal, serta berkurangnya keterampilan membuat makanan tradisional.

1. Cuscos Transmontanos com Coelho – Portugal

Hidangan tradisional dari wilayah Trás-os-Montes, Portugal utara, ini terdiri dari pasta kecil buatan tangan yang disajikan bersama semur kelinci. Proses pembuatannya yang rumit membuat hidangan ini semakin jarang ditemukan.

2. Mosbolletjies – Afrika Selatan

Mosbolletjies merupakan roti manis tradisional yang dibuat menggunakan sari anggur. Teknik pembuatannya cukup kompleks sehingga hanya sedikit orang yang masih menguasainya.

Baca Juga: Sarapan Sudah Banyak, Kok Masih Lemas? Bisa Jadi Karena 5 Makanan Ini

3. Inanchila – Filipina

Inanchila adalah hidangan penutup berbahan ketan yang dibuat menggunakan varietas padi lokal. Namun, semakin banyak petani beralih ke varietas padi modern yang lebih produktif sehingga bahan baku tradisional mulai langka.

4. Bagel Gulung Tangan – Amerika Serikat

Bagel khas New York yang dibuat secara tradisional dengan cara direbus sebelum dipanggang kini semakin sulit ditemukan. Proses pembuatannya mulai tergantikan oleh produksi massal yang lebih cepat dan efisien.

5. Petkhvis Cvishtvari – Georgia

Kue pipih berbahan millet hitam ini mulai ditinggalkan karena masyarakat lebih banyak mengonsumsi jagung dan gandum. Akibatnya, budidaya millet dan keterampilan membuat hidangan ini ikut memudar.

Baca Juga: 5 Makanan Tinggi Antioksidan yang Baik untuk Menjaga Kulit dari Kerusakan Akibat Sinar UV

6. Kwun Tong Gao – Hong Kong

Kwun Tong Gao merupakan pangsit sup berukuran jumbo khas Hong Kong yang sekilas menyerupai xiaolongbao. Meski masih dijual, versi yang dibuat dengan resep dan teknik tradisional kini semakin sulit ditemukan.

7. Chelsea Bun – Inggris

Roti manis khas London ini memiliki isian buah kering dan lapisan glasir. Popularitasnya terus menurun karena banyak toko roti beralih memproduksi roti dan pastry yang lebih diminati pasar.

8. Tlacoyos Berbahan Maíz Criollo – Meksiko

Baca Juga: 8 Makanan Kaya Protein yang Wajib Dicoba, Tak Cuma Favorit Anak Gym

Tlacoyos tradisional dibuat dari varietas jagung asli Meksiko atau maíz criollo. Kini, banyak produsen menggunakan jagung hibrida yang lebih mudah dibudidayakan sehingga penggunaan jagung lokal terus menurun.

9. Gumbo Tradisional – Amerika Serikat

Gumbo merupakan sup kental khas New Orleans yang secara tradisional menggunakan bubuk filé sebagai pengental alami dari daun pohon sassafras. Kini, banyak juru masak menggantinya dengan bahan pengental modern sehingga resep aslinya mulai ditinggalkan.

10. Funazushi dan Narezushi – Jepang

Funazushi dan Narezushi merupakan bentuk awal sushi tradisional Jepang yang dibuat melalui proses fermentasi ikan menggunakan garam dan nasi selama berbulan-bulan, bahkan lebih dari satu tahun.

Baca Juga: 5 Jenis Makanan yang Wajib Dibatasi demi Jaga Gula Darah Tetap Stabil

Berbeda dengan sushi modern yang populer saat ini, teknik fermentasi tersebut membutuhkan waktu panjang dan keahlian khusus. Produksi massal serta perubahan selera masyarakat membuat metode tradisional ini semakin jarang dipraktikkan.

Mengapa Makanan Tradisional Bisa Terancam Punah?

Menurut para pakar, ancaman terhadap makanan tradisional tidak hanya disebabkan oleh berkurangnya bahan baku, tetapi juga perubahan gaya hidup, industrialisasi, dan semakin sedikitnya generasi muda yang mempelajari teknik memasak warisan leluhur.

Karena itu, pelestarian kuliner tradisional dinilai sama pentingnya dengan menjaga warisan budaya lainnya. Selain mempertahankan cita rasa khas suatu daerah, upaya tersebut juga membantu menjaga identitas budaya yang telah terbentuk selama ratusan tahun.