Penyakit autoimun menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di kawasan Asia Tenggara, prevalensi penyakit autoimun diperkirakan mencapai 3–5 persen dari total populasi, dengan sekitar 80 persen penderitanya merupakan perempuan.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel-sel sehat sebagai ancaman. Akibatnya, tubuh membentuk autoantibodi yang memicu peradangan dan dapat merusak berbagai organ.

Baca Juga: Dokter Tirta Ungkap Autoimun Tak Bisa Sembuh Total, Ini Kunci Mengendalikan Gejalanya

"Secara umum, gejala autoimun ini sering kali mencakup rasa sangat lelah, nyeri sendi atau otot, ruam kulit atau perubahan warna kulit, demam ringan yang muncul berulang, gangguan pencernaan seperti diare atau nyeri perut, serta penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas," ujar Ronny dikutip pada Selasa (7/7/2026). 

Menurutnya, terdapat lebih dari 100 jenis penyakit autoimun. Beberapa yang paling dikenal antara lain lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, vitiligo, skleroderma, myositis, diabetes tipe 1, penyakit Hashimoto, Graves, multiple sclerosis, myasthenia gravis, penyakit Crohn, celiac, dan kolitis ulseratif.

Baca Juga: Kanker Endometrium Kini Mengintai Perempuan Muda, Kenali Gejala Awal dan Cara Mencegahnya

Ronny mengatakan perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami autoimun karena dipengaruhi kombinasi faktor genetik, hormon, dan sistem imun. Hormon estrogen dan progesteron berperan dalam mengatur respons kekebaMencegahny

Di satu sisi, sistem imun yang lebih aktif membantu melindungi tubuh, termasuk selama kehamilan. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga membuat perempuan lebih rentan mengalami gangguan autoimun.

Baca Juga: Mengenal PCOS: Gangguan Hormonal yang Kerap Tak Disadari Perempuan

Meski demikian, ia menegaskan bahwa penyakit autoimun tidak diwariskan secara langsung dari orang tua kepada anak. Yang diwariskan adalah kecenderungan atau predisposisi genetik yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit tersebut.

"Autoimun tidak langsung diwariskan kepada anak, tetapi ada predisposisi genetik yang meningkatkan risiko mereka, selain faktor lingkungan. Penyakit autoimun muncul dari kombinasi genetik dan lingkungan, bukan hanya karena kesalahan gen yang diwariskan," jelasnya.

Menurut Ronny, faktor lingkungan juga memiliki peran penting dalam memicu munculnya penyakit autoimun. Seseorang yang memiliki kerentanan genetik belum tentu akan mengalami autoimun apabila tidak terpapar pemicu tertentu.

Ia mencontohkan, infeksi dapat memicu penyakit pada individu dengan gen tertentu. Sementara pada penderita lupus, paparan sinar ultraviolet (UV) maupun tekanan mental dapat memicu kekambuhan atau flare.

"Sebagai contoh, seseorang yang memiliki gen HLA tertentu mungkin tidak akan sakit tanpa adanya infeksi yang memicu. Begitu pula, wanita yang berpotensi terkena lupus bisa mengalami flare setelah terpapar sinar ultraviolet (UV) atau mengalami tekanan mental," kata Ronny.

Bagi penderita autoimun, Ronny menyarankan agar tidak hanya mengandalkan pengobatan, tetapi juga menerapkan pola hidup sehat dan rutin berkonsultasi dengan dokter spesialis reumatologi atau imunologi. Penanganan dapat disesuaikan dengan jenis penyakit, mulai dari pemberian obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), kortikosteroid, imunomodulator, hingga terapi khusus seperti insulin bagi penderita diabetes tipe 1.

Selain itu, penderita dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi dengan pola makan antiinflamasi, menghindari rokok, mengelola stres, mencukupi waktu tidur, serta mengenali faktor-faktor yang dapat memicu munculnya gejala.

"Penderita autoimun disarankan mulai menerapkan gaya hidup sehat, seperti memiliki pola makan yang baik, pola makan antiinflamasi, menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, serta mencatat pemicu gejala. Langkah kecil ini membantu merasa lebih baik tiap hari," tutur Ronny.