Kebutuhan akan pendidikan inklusif di Indonesia semakin mendesak seiring meningkatnya kesadaran akan keberagaman cara belajar anak. Menjawab tantangan tersebut, Atelier of Minds resmi hadir di Jakarta Selatan sebagai pusat student care dan pengembangan anak yang mengusung pendekatan holistik menggabungkan aspek akademik, sosial, dan emosional dalam satu ekosistem terpadu.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2021), diperkirakan terdapat 2,4 juta individu dengan autisme di Indonesia, dengan penambahan sekitar 500 kasus baru setiap tahun. Sementara itu, penelitian tahun 2024 di Surabaya menunjukkan bahwa 15,1 persen siswa sekolah dasar berada dalam kategori berisiko mengalami gejala ADHD.

Baca Juga: Screen Time Dibatasi, Apa yang Harus Dilakukan Anak? Ini Penjelasan Ahli

Di sisi lain, data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat bahwa dari 40.164 sekolah yang memiliki siswa penyandang disabilitas, hanya 5.956 sekolah atau sekitar 14,83 persen yang memiliki Guru Pembimbing Khusus (GPK). Kesenjangan ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap pendidikan inklusif di Indonesia masih terbatas.

Melihat kondisi tersebut, Atelier of Minds hadir dengan pendekatan berbeda dari pusat pendidikan konvensional. Program yang ditawarkan mengintegrasikan terapi ke dalam kegiatan belajar sehari-hari, sehingga kebutuhan akademik dan perkembangan anak dapat berjalan beriringan.

“Neurodiversitas adalah perbedaan, bukan kekurangan. Ketika kita mengubah cara pandang dari ‘memperbaiki anak’ menjadi ‘memahami anak’, kita membuka potensi terbaik mereka,” ujar Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist dari Agape Psychology, Singapura, yang turut menjadi mitra penasihat.

Pendekatan ini menekankan bahwa anak akan berkembang optimal ketika lingkungan belajar disesuaikan dengan cara kerja otaknya. Fokusnya tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses belajar, termasuk bagaimana anak mengelola emosi dan berinteraksi dengan lingkungan.

Hal ini juga dirasakan oleh para orang tua. Wina Natalia menyampaikan bahwa kebutuhan keluarga dengan anak neurodivergent tidak berhenti pada terapi atau pendidikan formal semata. “Yang dibutuhkan adalah ruang aman di mana anak dipahami dan diterima,” ujarnya.

Atelier of Minds menghadirkan tiga program utama yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Atelier Minis ditujukan bagi anak usia 2–5 tahun dengan pendekatan berbasis bermain. Student Care untuk usia 6–12 tahun mengintegrasikan pendampingan akademik dengan pengembangan regulasi emosi dan keterampilan sosial. Sementara itu, Enrichment Program menawarkan berbagai aktivitas seperti coding, art therapy, seni dan kerajinan, musik, hingga aktivitas fisik.

Menurut Ries Sansani, Lead Coach dan Terapis Okupasi, pendekatan ini memungkinkan orang tua tidak perlu lagi memilih antara pencapaian akademik atau perkembangan anak. Keduanya dapat berjalan secara seimbang melalui metode belajar yang terstruktur dan menyenangkan.

Lebih jauh, pendekatan yang diterapkan Atelier of Minds juga membuka peluang bagi anak neurodivergent untuk menemukan bakat dan potensi unik mereka. Dalam lingkungan yang suportif, anak dapat mengeksplorasi minat secara alami tanpa tekanan standar yang seragam. Mereka juga berkesempatan mengembangkan kekuatan spesifik, seperti kreativitas, kemampuan visual, atau logika, sekaligus membangun rasa percaya diri melalui pengalaman belajar yang positif.

“Atelier of Minds dibangun dari keyakinan sederhana: setiap anak berhak mendapatkan lingkungan yang tepat untuk berkembang,” ujar Donny Eryastha.

Dengan menggabungkan pendidikan, terapi, dan pengasuhan dalam satu ruang, Atelier of Minds diharapkan dapat menjadi model baru pendidikan inklusif di Indonesia. Lebih dari sekadar tempat belajar, kehadirannya menjadi langkah awal menuju sistem pendidikan yang lebih empatik, adaptif, dan berpusat pada kebutuhan setiap anak.