Olahraga rutin menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan.
Namun, menurut Dokter sekaligus Entrepreneur, Tirta Mandira Hudhi, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak dibarengi dengan merokok karena dapat mengurangi manfaat yang diperoleh tubuh dari aktivitas fisik.
Pria yang akrab disapa dr. Tirta itu mengaku kurang sepakat dengan fenomena yang belakangan sempat ia lihat, yakni seseorang yang merayakan keberhasilan menyelesaikan lomba lari dengan menyalakan rokok di garis finis.
"Contoh yang kemarin aku agak kurang setuju itu ketika ada orang lari, terus di finish line merayakan dengan ngerokok. Nah, janganlah seperti itu," tegas dr. Tirta, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Rabu (8/7/2026).
Meski demikian, dr. Tirta menegaskan tidak bermaksud mencampuri pilihan hidup setiap orang. Menurutnya, setiap individu memiliki alasan masing-masing.
Namun, ia mengingatkan bahwa menghentikan kebiasaan merokok akan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan performa fisik.
"Tidak ada yang berusaha mengganggu atau ikut campur di urusanmu, karena semua orang punya alasannya masing-masing. Tapi buat teman-teman yang larinya kencang tapi masih ngerokok, kalau kalian berhenti ngerokok, otomatis insyaallah VO2 Max-nya akan lebih bagus, pace-nya akan lebih kencang, angkatannya akan lebih banyak," jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Tirta mengatakan bahwa berhenti merokok memang tidak selalu mudah. Sebagian orang mengalami gejala putus nikotin atau withdrawal syndrome, seperti tubuh gemetar, mual, hingga muncul keinginan kuat untuk kembali merokok.
"Kalau teman-teman ingin berhenti ngerokok, terus saat proses berhenti itu ngerasa craving atau withdrawal syndrome, sebenarnya ada solusinya dari sains," katanya.
Baca Juga: Dokter Tirta Bagikan 3 Tips Tetap Bugar Meski Begadang Nonton Piala Dunia
Menurutnya, salah satu metode yang direkomendasikan secara ilmiah adalah Nicotine Replacement Therapy (NRT), salah satunya dalam bentuk permen karet nikotin (nicotine gum).
Terapi ini, kata dia, membantu mengurangi gejala putus nikotin sehingga proses berhenti merokok menjadi lebih nyaman.
"Ada yang namanya Nicotine Replacement Therapy dalam bentuk gum. Cara pakainya bukan seperti permen biasa. Dikunyah sampai terasa efeknya, lalu diletakkan di sela gigi atau sela gusi, kemudian dikunyah lagi. Prosesnya sekitar 30 menit sampai rasanya hilang dan digunakan sesuai dosisnya. Itu sesuai sains," terang dr. Tirta.
Menurut dr. Tirta, penggunaan terapi pengganti nikotin dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan langsung beralih ke rokok elektronik ketika seseorang sedang berusaha menghentikan kebiasaan merokok.
"Jadi daripada beralih ke rokok elektrik, bisa memakai gum ini untuk teman-teman yang sedang proses berhenti atau mengurangi rokok," ujarnya.
Kemudian, dr. Tirta pun memberikan semangat kepada para perokok yang sudah mulai rutin berolahraga agar tetap konsisten menjalani gaya hidup sehat dan perlahan meninggalkan kebiasaan merokok.
"Buat teman-teman yang olahraga tapi masih ngerokok, saya doakan teman-teman bisa konsisten olahraganya dan bisa mengurangi, bahkan berhenti merokok," pungkasnya.
Baca Juga: Jantung Berdebar Setelah Minum Kopi, Berbahayakah? Begini Penjelasan Dokter Tirta