Tren olahraga yang semakin populer membuat banyak orang berlomba-lomba mengikuti berbagai ajang lari, triathlon, hingga kompetisi ketahanan fisik lainnya.

Namun, Dokter sekaligus Entrepreneur, Tirta Mandira Hudhi, mengingatkan bahwa setiap orang harus memahami tujuan berolahraga sejak awal agar tidak justru membahayakan kesehatan.

Menurut dr. Tirta, kebutuhan latihan seseorang yang ingin hidup sehat tentu berbeda dengan mereka yang mengejar performa olahraga atau prestasi kompetitif.

"Kalau tujuannya buat sehat dan bugar, jadi health and fit, memang olahraganya disarankan dari berbagai macam jurnal, artikel ilmiah, dan berbagai dokter adalah 150 menit sampai 300 menit per minggu. Dilakukannya bukan dirapel, tapi bisa 5-6 kali seminggu. Dan itu harus kombinasi dari resistance training, strength training, dan cardio training," papar dr. Tirta, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (30/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa rekomendasi tersebut merupakan panduan yang didukung berbagai penelitian ilmiah untuk menjaga kebugaran sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan secara umum.

Namun, lanjut dr. Tirta, situasinya akan berbeda ketika seseorang mulai menargetkan pencapaian performa tertentu, seperti mengikuti kompetisi sepak bola, menyelesaikan full marathon, mengejar waktu half marathon di bawah 100 menit, mencatat waktu 5K di bawah 20 menit, hingga mengikuti ultramarathon, Ironman, atau Hyrox.

Menurut dr. Tirta, semakin tinggi target performa yang ingin dicapai, semakin besar pula risiko kesehatan yang harus dihadapi apabila latihan tidak dilakukan secara tepat.

"Kalau tujuannya sudah performance, semakin tinggi target performance-nya, maka akan semakin tinggi risiko yang mengiringinya. Karena itu banyak paper menyarankan, kalau ingin membuat fitness level meningkat seiring dengan performance, harus diikuti dengan program latihan yang proper, karena risikonya juga semakin tinggi," jelasnya.

dr. Tirta menyebutkan beberapa risiko serius yang dapat terjadi akibat latihan berlebihan atau tidak sesuai kemampuan tubuh.

"Apa risikonya? Henti jantung. Yang kedua pecahnya pembuluh darah. Yang ketiga rhabdomyolysis," kata dr. Tirta.

Baca Juga: Jangan Hanya Kejar Pace, Dokter Tirta Ungkap Alasan Pelari Perlu Periksa Kesehatan Jantung