Growthmates, olahraga lari sering dianggap sebagai simbol kesehatan, kekuatan fisik, dan gaya hidup aktif.
Namun, di balik kemampuan seseorang mencapai pace cepat dan menembus berbagai target waktu, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: memastikan kondisi jantung benar-benar siap menghadapi tekanan latihan.
Hal tersebut disampaikan oleh dokter sekaligus entrepreneur Tirta Mandira Hudhi yang membagikan kisah salah satu temannya, yakni anggota SAC Running Club, Sylvester Dyto.
Dokter Tirta menegaskan bahwa kisah Dyto ini menjadi pengingat bahwa atlet atau pelari yang terlihat sangat bugar sekalipun tetap memiliki risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.
“Ini penting banget buat kalian olahragawan yang hobinya push limit dan belum pernah cek jantung,” ungkap Dokter Tirta, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Minggu (21/6/2026).
Dikisahkan Dokter Tirta, kejadian bermula saat tim SAC Running Club mengikuti ajang Purwokerto Half Marathon atas undangan Dr. Davin. Dalam perlombaan tersebut, Dyto yang ikut berlari bersama anggota SAC lainnya tiba-tiba mengalami kondisi darurat.
Saat memasuki kilometer ke-12, kata Dokter Tirta, Dyto terlihat terhuyung-huyung dan hampir kolaps. Beruntung, dua anggota SAC Running Club lainnya segera menyadari kondisi tersebut dan menghentikan lari mereka untuk membantu.
Dokter Tirta menjelaskan bahwa sebelumnya para anggota SAC Running Club sudah diberikan protokol menghadapi situasi kegawatdaruratan saat berlari.
Jika ada pelari yang mengalami kondisi lemas, hampir pingsan, atau kolaps tetapi masih sadar, maka harus segera dipinggirkan dan mendapatkan bantuan medis.
“Kalau ada salah satu pelari yang memang kolaps atau nyaris kolaps dan lemas dan masih sadar, itu segera dipinggirkan dan telepon ambulans,” jelas Dokter Tirta.
Tindakan cepat tersebut membuat Dyto segera mendapat pertolongan. Kevin menghubungi bantuan, Marcell membantu memanggil ambulans, dan dalam waktu sekitar empat menit ambulans datang untuk membawa Dyto ke IGD.
Kondisinya saat itu cukup mengkhawatirkan. Dyto mengalami gejala aritmia, detak jantung yang sangat tinggi, serta tekanan darah rendah hingga mencapai sekitar 80/60.
Padahal, secara kebugaran, Dyto merupakan pelari dengan performa yang sangat baik. Dokter Tirta menyebut Dyto memiliki VO2 Max mencapai 58, catatan 5K hampir 20 menit, 10K sekitar 40 menit, dan Half Marathon sekitar 100 menit. Bahkan resting heart rate atau detak jantung saat istirahat berada di angka 47 BPM.
“Dito itu sangat fit. VO2 Max-nya aja tembus 58. Rest HR-nya aja 47 BPM. Berarti ini orang fit banget dan nggak ada riwayat penyakit jantung,” kata Dokter Tirta.
Setelah kejadian tersebut, lanjut Dokter Tirta, Dyto menjalani pemeriksaan lanjutan bersama dokter spesialis jantung.
Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari treadmill test, ekokardiografi, MRI jantung, pemeriksaan darah, enzim jantung, EKG, hingga pemasangan holter untuk memantau aktivitas jantung.
Baca Juga: Olahraga Setiap Hari Tanpa Istirahat Bisa Merusak Otot? Ini Penjelasan Dokter Tirta