Perubahan lanskap ekonomi dan geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir mendorong perusahaan internasional untuk menata ulang strategi bisnis, termasuk dalam pengelolaan rantai pasokan. Konflik geopolitik, disrupsi ekonomi, hingga pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi faktor utama yang memicu evaluasi tersebut.
Di tengah dinamika tersebut, Otto Media Grup memilih melakukan restrukturisasi dengan membangun model pertumbuhan baru yang menghubungkan Singapura dan Indonesia. Perusahaan tidak lagi memandang globalisasi sebatas ekspansi pasar, melainkan sebagai upaya menyusun ulang fungsi bisnis, distribusi aset, serta pengembangan talenta lintas negara.
Baca Juga: Dua Mata Pisau Artificial Intelligence dalam Pertumbuhan Ekonomi RI
Dalam skema baru ini, Singapura diposisikan sebagai pusat fungsi strategis. Kantor pusat Otto Media difokuskan pada aktivitas bernilai tinggi seperti manajemen hak cipta, riset pasar, keuangan, hingga pengambilan keputusan regional. Manajemen menegaskan bahwa langkah ini bukan bentuk pengurangan aktivitas bisnis, melainkan penguatan efisiensi operasional melalui pemisahan fungsi yang lebih jelas.
Selain itu, pemanfaatan teknologi AI turut mengubah pola kerja di kantor pusat. Fleksibilitas kerja meningkat, dengan karyawan dapat bekerja secara remote dan lebih berfokus pada pengembangan kompetensi profesional dibandingkan pekerjaan operasional yang bersifat rutin.
Baca Juga: Menakar Eksistensi Artificial Intelligence vs Masa Depan Suku Bunga
Sementara itu, Indonesia ditetapkan sebagai pusat ekspansi operasional. Berbagai aktivitas bisnis dikembangkan di dalam negeri, mulai dari siaran langsung (live streaming), pelatihan influencer, produksi konten digital, strategi pemasaran, hingga pelatihan berbasis AI.
Menurut manajemen perusahaan, keputusan ini tidak semata didorong oleh faktor biaya tenaga kerja, tetapi juga oleh potensi pasar Indonesia yang besar. Pertumbuhan konsumen digital, dominasi populasi usia muda, serta meningkatnya adopsi teknologi menjadi daya tarik utama.
Selain itu, generasi muda Indonesia dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang cepat, khususnya dalam industri kreatif dan digital. Hal ini menjadi modal penting dalam mendukung ekspansi bisnis perusahaan di sektor tersebut.
Otto Media juga menekankan pentingnya pengembangan talenta lokal sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Perusahaan tidak sekadar memindahkan model bisnis dari Singapura, tetapi melakukan penyesuaian dengan karakter pasar Indonesia, termasuk struktur tenaga kerja dan pola pengembangan karier generasi muda.
Melalui akademi pelatihan yang dibangun, Otto Media mengembangkan sistem pendidikan yang berfokus pada pemanfaatan AI, produksi konten, pengembangan merek, serta peningkatan keterampilan profesional.
Media Manager Otto Media Grup, Budi Santoso, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem industri kreatif dan digital yang berkelanjutan.
“Kami melihat Indonesia bukan hanya sebagai lokasi ekspansi, tetapi sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem industri kreatif dan digital yang lebih kuat melalui kombinasi talenta lokal, adopsi teknologi AI, serta sistem pelatihan yang terstruktur,” ujar Budi.
Langkah Otto Media Grup ini mencerminkan pergeseran strategi perusahaan global dalam merespons perubahan rantai pasokan. Kini, perusahaan tidak lagi hanya mempertimbangkan efisiensi biaya, tetapi juga faktor stabilitas sistem, kualitas sumber daya manusia, serta kesiapan ekosistem industri di masing-masing negara.
Dengan pembagian peran antara Singapura sebagai pusat strategis dan Indonesia sebagai basis operasional, Otto Media berupaya membangun model bisnis yang lebih fleksibel, efisien, dan adaptif terhadap perubahan global yang terus berkembang.