Bagi sebagian orang, memejamkan mata di malam hari bisa menjadi perkara yang sangat sulit. Kondisi sulit memulai tidur, sering terbangun di tengah malam, hingga susah untuk tidur kembali ini dikenal dengan istilah insomnia.

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 27% orang di dunia mengeluhkan masalah kesulitan tidur ini. Uniknya, studi tersebut mencatat bahwa insomnia lebih banyak menyerang perempuan dibanding laki-laki karena perempuan cenderung lebih sensitif terhadap perubahan, sehingga rentan mengalami kecemasan dan depresi. Meskipun bisa menyerang usia berapa pun, risiko insomnia ini juga dipastikan makin meningkat seiring bertambahnya usia.

Lalu, kapan sebenarnya kamu harus mulai waspada dan memutuskan untuk pergi ke dokter? Yuk, pahami gejalanya dan pelajari batasan waktunya berikut ini, seperti dikutip Olenka dari berbagai sumber, Sabtu (13/6/2026).

1. Pahami Bedanya: Insomnia Akut vs Insomnia Kronis

Sebelum melangkah ke ruang dokter, penting bagi kamu untuk menghitung seberapa lama gangguan tidur ini sudah menyiksamu:

  • Insomnia Akut: Kondisi ini biasanya bersifat sementara dan dipicu oleh faktor jangka pendek yang mengganggu pikiran, seperti stres akibat kerjaan, masalah besar yang sedang dihadapi, hingga jadwal kerja shifting yang berantakan.

  • Insomnia Kronis: Nah, kondisi ini jauh lebih serius. Insomnia dikatakan kronis jika keluhan susah tidurmu sudah berlangsung selama 3 bulan atau lebih, dan setidaknya terjadi minimal 3 kali dalam seminggu. Jika sudah masuk fase ini, penanganan medis dari dokter sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis.

2. Waspadai Tanda & Gejala yang Menyertai

Insomnia bukan cuma soal mata yang sulit terpejam. Ada rentetan efek domino yang ikut menyerang tubuh dan psikologismu. Coba cek, apakah kamu merasakan gejala-gejala ini:

  • Sering terbangun di tengah malam atau bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur lagi.
  • Bangun tidur dengan kondisi tubuh yang justru terasa lelah dan tidak segar.
  • Kerap didera rasa kantuk yang hebat dan kelelahan ekstrem pada siang hari.
  • Menjadi lekas marah, suasana hati sensitif, depresi, atau cemas dan gugup.
  • Sulit fokus, konsentrasi buyar saat mengerjakan tugas, dan mendadak jadi pelupa.
  • Sering mengeluhkan sakit kepala, kepala terasa tegang, hingga rasa tertekan/tidak nyaman pada perut dan usus.

3. Lakukan Pertolongan Pertama Lewat "Sleep Hygiene"

Jika insomnia yang kamu rasakan masih dalam kategori akut, jangan panik dulu. Kamu bisa melakukan beberapa upaya mandiri di rumah untuk memperbaiki kualitas tidur. Caranya adalah dengan menjaga sleep hygiene (kebersihan tidur), seperti mengatur jadwal tidur yang konsisten setiap hari, rutin berolahraga secara proporsional, dan menerapkan pola hidup sehat sebelum tidur (misalnya mematikan lampu dan menjauhkan gadget).

4. Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika segala upaya pertolongan pertama di atas sudah kamu lakukan dengan tertib namun kualitas tidurmu tidak kunjung membaik, jangan menunda lagi. Kamu wajib segera berkonsultasi dengan dokter apabila:

  • Gangguan tidur sudah mengarah pada kategori insomnia kronis (lebih dari 3 bulan).
  • Rasa lelah dan kantuk di siang hari sudah mulai mengganggu aktivitas, merusak produktivitas kerja harian, atau membahayakan keselamatanmu (misalnya saat menyetir).