Perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama kehadiran kecerdasan buatan (AI), membawa perubahan besar dalam cara anak-anak belajar dan berpikir.

Generasi terbaru seperti Generasi Alpha hingga Generasi Beta tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya, yakni lebih digital, lebih instan, dan lebih terhubung dengan teknologi sejak usia dini.

Psikolog Klinis & Keluarga sekaligus Co-Founder Sekolah bnmontessori dan Co-Founder @goodenoughparents.id, Pritta Tyas Mangestuti, M.Psi., pun menyoroti bahwa anak-anak Generasi Alpha sudah mulai akrab dengan teknologi berbasis AI seperti Chat GPT.

Hal ini menimbulkan tantangan baru bagi orang tua dan pendidik, terutama dalam memahami bagaimana anak menggunakan teknologi tersebut dalam proses belajar.

“Gen Alpha ini kenal GPT, yang mulai mungkin kita mesti lihat kalau mereka bikin tugas mereka pakai AI apa enggak. Iya kan, mikir apa pakai AI gitu kan,” ungkap Pritta, dikutip dari Podcast I Could Relate, di laman Instagram Samanta Elsener, Senin (6/4/2026).

Pernyataan Pritta tersebut menegaskan bahwa proses berpikir anak kini tidak lagi sepenuhnya berlangsung secara mandiri.

Menurutnya, ada kemungkinan anak mulai bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas, sehingga penting bagi orang tua untuk tetap memantau dan membimbing.

Lebih jauh, Pritta menuturkan bahwa tantangan ini diprediksi akan semakin kompleks pada Generasi Beta. Generasi ini kemungkinan akan berinteraksi dengan AI sejak usia yang jauh lebih dini, bahkan melalui tayangan atau aplikasi edukatif yang mereka konsumsi sehari-hari.

“Kayaknya challenge-nya si Gen Beta ini, begitu mereka kenal gadget, teknologinya nanti, AI-nya nanti, mungkin udah masuk ke tayangan atau apps edukatif yang mereka konsumsi,” tuturnya.

Baca Juga: Realita Finansial di Balik Pernikahan yang Sering Tak Terlihat