Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut persepsi negatif yang berkembang menjadi biang kerok pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir-akhir ini.

Menurut Bendahara Negara tersebut, pemerintah bersama bank sentral tengah menjalankan berbagai kebijakan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Namun, sentimen negatif menjagi tantangan yang perlu dihadapi.

"Jadi kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita yang tidak terlalu benar," ujarnya di Jakarta, Minggu (8/6/2026) kemarin.

Baca Juga: Kabar Terbaru dari Istana Soal Nasib Purbaya, Benar Didepak?

Lebih jauh, ia menegaskan jika kondisi fundamental ekonomi Tanah Air saat ini tetap berada pada posisi yang kuat. Salah satunya, karena kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih terjadi.

"Karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus," tambahnya.

Namun, ia mengakui jika sebagian investor dan pelaku pasar masih terpengaruh oleh berbagai narasi pesimistis mengenai ekonomi Indonesia. "Tapi ketika persepsi dibilang kita mau hancur dan segala macam, sebagian orang terpengaruh," ucapnya.

Karena itu, pihaknya memastikan pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga kepercayaan pasar dan meredam sentimen negatif.

"Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga erat, cuman kita lebih eratin lagi," ucapnya lagi.

Adapun, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, mengungkapkan bahwa ada aktivitas pihak tertentu yang turut memperburuk kondisi pasar keuangan nasional. Ia menuding aksi spekulan menjadi salah satu faktor di balik pelemahan tajam nilai tukar rupiah dan IHSG dalam sepekan terakhir.

"Karena banyak juga yang ada nakal-nakalnya. Maaf ada spekulan-spekulannya yang tidak disadari. Itu juga memberi pengaruh terhadap nilai tukar atau IHSG kita," ucap Prasetyo.