Investasi pada teknologi transformatif terus meningkat di kalangan perusahaan dengan analitik dan kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama di seluruh sektor industri. Sebanyak 66% responden perusahaan tercatat telah berinvestasi dalam agentic AI—masing-masing 34% saat ini dan 32% berencana berinvestasi dalam satu tahun ke depan. Sejumlah perubahan mendasar juga membentuk cara pandang para eksekutif perusahaan dalam menilai, memperoleh, dan menerapkan kapabilitas tersebut, menurut laporan dari EY Reimagining Industry Future study 2026.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat investasi pada teknologi 5G terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu, sovereign cloud mulai masuk dalam radar investasi perusahaan. Minat terhadap teknologi transformatif ini dipengaruhi oleh gelombang baru faktor eksternal, di mana kebijakan dan regulasi terkait data menempati posisi teratas sebagai faktor yang memengaruhi keputusan investasi—melampaui tindakan para pesaing. Lebih dari tiga perempat (77%) responden survei menyatakan tengah meninjau ulang hubungan dengan para pemasok seiring dengan perubahan lingkungan geopolitik, dengan gambaran investasi jangka panjang juga menjadi objek evaluasi serupa.

Baca Juga: Kaspersky dan BSSN Perbarui Nota Kesepahaman (Mou) untuk Perkuat Ketahanan Siber Indonesia

Investasi Indonesia pada teknologi transformatif semakin menguat, dipimpin oleh GenAI, dengan 57% responden menyebutkannya sebagai prioritas utama dalam 12 bulan ke depan. Namun, tantangan utama masih terletak pada eksekusi, dengan kesenjangan keterampilan (52%), isu regulasi atau keamanan (48%), serta lemahnya keselarasan dengan teknologi lain (48%) sebagai hambatan utama.

Eric Listyosuputro, EY-Parthenon Indonesia Strategy and Transactions Partner, mengatakan, “Perusahaan-perusahaan di Indonesia bergerak cepat dari tahap niat ke tahap eksekusi dalam penerapan GenAI. Namun, realisasi nilai akan sangat bergantung pada kemampuan untuk menutup kesenjangan kapabilitas serta memperkuat aspek keamanan guna mendukung adopsi yang bertanggung jawab dalam skala besar.”

Pertimbangan keamanan siber juga semakin mendorong minat terhadap sovereign cloud dengan 79% responden menyebutkan keamanan siber dan kontrol data sebagai pendorong utama pergeseran ke solusi sovereign cloud. Menanggapi hal tersebut, organisasi semakin memasukkan persyaratan kedaulatan data ke dalam strategi cloud mereka, sering kali melalui pendekatan hybrid atau multi-cloud yang mengombinasikan kapabilitas global dengan tata kelola dan kontrol yang terlokalisasi.

Eric, menambahkan, “Sovereign cloud semakin menjadi pertimbangan strategis seiring organisasi memprioritaskan kontrol data, ketahanan, dan kepatuhan, khususnya di sektor-sektor yang sangat teregulasi seperti jasa keuangan, telekomunikasi, dan sektor publik.”

Ke depannya, mengubah investasi AI dan cloud menjadi hasil yang terukur akan membutuhkan penyelarasan yang lebih kuat antara tim bisnis, teknologi, dan manajemen risiko. Seiring berkembangnya ekspektasi perusahaan, penyedia teknologi di Indonesia perlu melakukan diferensiasi melalui kapabilitas keamanan yang lebih kuat, yang semakin penting, serta menjawab meningkatnya permintaan akan solusi terintegrasi yang menggabungkan cloud, data, AI, dan keamanan siber. Selain itu, diperlukan artikulasi nilai bisnis yang lebih jelas melalui penjelasan use case dan dampak yang dihasilkan, serta dukungan tidak hanya pada implementasi teknologi, tetapi juga pada transformasi yang lebih luas, termasuk penyelarasan model operasi dan pengembangan kapabilitas.

Sebanyak 89% responden survei menempatkan lingkungan kebijakan teknologi—termasuk tuntutan baru terkait kedaulatan digital—sebagai faktor kunci dalam pengambilan keputusan investasi teknologi. Sementara itu, 81% responden juga menyebut perang dagang dan sengketa tarif sebagai faktor yang memengaruhi keputusan investasi.

Peralihan Menuju Sovereign Cloud

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa permintaan perusahaan terhadap sovereign cloud terus meningkat, didorong oleh gejolak geopolitik serta meningkatnya perhatian para pembuat kebijakan terhadap perlindungan data dan kemandirian teknologi. Dunia usaha merespons perubahan ini, dengan 17% responden survei menyatakan saat ini telah berinvestasi dalam solusi sovereign cloud, sementara lebih dari separuhnya (53%) berencana melakukan investasi. Faktor utama yang mendorong adopsi mencakup keamanan siber dan kendali data (61%), kepercayaan dan keyakinan pelanggan (40%), serta kepatuhan terhadap kebijakan dan regulasi nasional (39%).