Kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan dinilai menjadi bumerang fatal yang justru mempercepat kejatuhan nilai tukar rupiah. Alih-alih menjinakkan inflasi dan memperkuat mata uang, langkah BI ini dituding sebagai pemicu utama kaburnya modal asing (capital outflow) besar-besaran dari tanah air.
Ekonom senior, Gede Sandra, mengatakan bahwa kondisi moneter Indonesia saat ini berada di jurang bahaya yang persis pernah dialami Brazil menjelang kejatuhannya pada tahun 2002 silam.
Baca Juga: Satu Dekade Public Gold Indonesia, Edukasi Emas Diperluas di Tengah Ketidakpastian Global
"Ini hal yang sebenarnya bisa dihindari bila Bank Sentral itu lebih tepat responsnya. Tapi ini malah seperti memperburuk!" cetus Gede Sandra dilansir Senin (8/6/2026).
Gede Sandra menjelaskan bahwa respon pasar keuangan saat ini berbanding terbalik dengan ekspektasi menara gading Bank Indonesia. Berdasarkan penelitian ekonom dunia, Olivier Blanchard (2004), Brazil pada tahun 2002 melakukan kesalahan yang sama: menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, namun pasar justru panik, modal asing hengkang, dan mata uang mereka hancur.
Ironisnya, kesalahan sejarah belasan tahun lalu itu kini justru diulangi oleh otoritas moneter Indonesia.
"Harapannya mata uang menguat (apresiasi), dia malah melemah. Dan masalahnya, pengalaman di Brazil ini tidak menjadi pelajaran bagi otoritas moneter di Bank Indonesia," kritik Gede.
Situasi makin mencekam karena rasio utang Indonesia saat ini sudah menyentuh kisaran 40% terhadap GDP, mendekati Brazil kala itu yang berada di angka 50-60%. Ditambah lagi, tingkat suku bunga surat utang Indonesia sudah melambung tinggi hingga menyentuh 7%.
"Pada saat otoritas Bank Sentral menaikkan suku bunga moneter, ternyata suku bunga surat utang juga ikut naik. Takutlah ini investor-investor melihat, wah bagaimana kalau nanti terjadi default atau gagal bayar?" paparnya.
Gede Sandra menyayangkan sikap ego sektoral atas nama 'independensi' Bank Indonesia. Padahal dari sisi kebijakan fiskal—yang dimotori oleh tim ekonomi pemerintah—kinerja keuangan negara per April sebenarnya menunjukkan performa yang sangat impresif.
Penerimaan negara tercatat tembus Rp918 triliun, dengan belanja Rp1.024 triliun (defisit terkendali di angka 0,64% atau Rp164 triliun). Hebatnya, untuk pertama kalinya setelah sempat negatif di kuartal pertama, Keseimbangan Primer Indonesia berhasil mencetak SURPLUS! Neraca perdagangan pun terus menunjukkan tren positif.
Namun, semua prestasi kinclong di sektor riil dan fiskal tersebut mendadak mentah akibat kebijakan BI.
"Kita melihat ada seperti kebijakan fiskal ini dinegasikan. Dibatalkan oleh otoritas moneter! Harusnya bareng-bareng kesana, moneternya kok kayak mau negasikan," gugat Gede Sandra heran melihat ketidaksinkronan intervensi moneter tersebut.
Selain faktor salah urus suku bunga, Gede Sandra membeberkan variabel krusial lain yang membuat Rupiah diamuk pasar global: Dedolarisasi.
Langkah agresif BI dalam memperluas Local Currency Transaction (LCT) dan penggunaan QRIS antarnegara demi mendepak ketergantungan pada Dolar AS ternyata memicu konsekuensi besar. Manuver ini membuat para pemilik modal raksasa dari Amerika Serikat gerah.
"Aktivitas dedolarisasi ini tidak disukai sebenarnya oleh modal-modal dari negeri dolar, dari Amerika, ya. Jadi ini juga salah satu faktor yang mendorong (pelemahan rupiah)," ungkapnya.
Di level global, runtuhnya era Petrodolar setelah 50 tahun berjaya dan ekspansi blok BRICS yang menggunakan mata uang lokal telah memaksa terjadinya inflasi gila-gilaan di dalam negeri AS sendiri. Akibatnya, Bank Sentral AS (The Fed) terpaksa mengerek suku bunga mereka tinggi-tinggi demi menyelamatkan ekonominya, memicu penarikan modal masif dari seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski kondisi saat ini di ujung tanduk, Gede Sandra menyebutkan dedolarisasi bisa menjadi obat jangka panjang yang menstabilkan ekonomi, asalkan moneter dan fiskal mau berjalan seirama. Ia mendesak pemerintah dan BI meniru 4 jurus sukses Presiden Brazil Lula da Silva pada tahun 2002-2003 yang berhasil meloloskan negaranya dari lubang jarum:
Baca Juga: Rupiah Melemah, Menkeu Purbaya Pastikan Pembayaran Utang Aman dan Subsidi Energi Sudah Terhitung
Target Surplus Keseimbangan Primer yang Tinggi (Sudah dieksekusi dengan baik secara fiskal). Reformasi Anggaran dan Efisiensi Program (Langkah efisiensi anggaran ketat, termasuk penyesuaian pada program makro).
Mengurangi Ketergantungan Dolar sebagai solusi stabilitas jangka panjang.
"Dengan empat langkah ini, akhirnya Brazil tahun 2002 lolos. Begitu persepsi pasar membaik, kurs menguat, inflasi turun, barulah kemudian Bank Sentral Brazil menaikkan suku bunga. Gak ada masalah setelah itu," pungkas Gede Sandra menutup analisanya.