Growthmates, kesehatan otak kerap menjadi bagian yang luput diperhatikan dalam pemeriksaan kesehatan rutin. Padahal, otak merupakan salah satu organ vital yang berperan penting dalam mengatur hampir seluruh fungsi tubuh.
Dokter Spesialis Bedah Saraf (Neurosurgeon) Rumah Sakit PON Jakarta, dr. Ryan Rhiveldi Keswani, Sp.BS., mengingatkan pentingnya perhatian lebih terhadap kesehatan otak, termasuk mengenali sejumlah faktor yang dapat berkaitan dengan gangguan pada organ tersebut.
Salah satu hal yang disorot dr. Ryan adalah penggunaan kontrasepsi hormonal tertentu. Ia menyebut, kontrasepsi hormonal suntik yang diberikan setiap tiga bulan, yakni depot medroxyprogesterone acetate (DMPA) yang dikenal antara lain sebagai Depo-Provera, memiliki kaitan dengan peningkatan risiko meningioma.
“Salah satu kontrasepsi hormonal, Depo-Provera, pemberian kontrasepsi hormonal per tiga bulan, itu meningkatkan risiko untuk tumbuhnya meningioma. Itu adalah tumor jinak yang berasal dari selaput otak,” ungkap dr. Ryan, dikutip dari laman Instagram @room.4improvement, Kamis (17/9/2026).
Pernyataan tersebut sejalan dengan sejumlah penelitian terbaru yang menemukan adanya hubungan antara penggunaan DMPA dan diagnosis meningioma.
Sebuah studi berbasis data kesehatan di Amerika Serikat menemukan peningkatan risiko relatif diagnosis meningioma pada pengguna DMPA, terutama pada paparan lebih dari empat tahun atau ketika penggunaan dimulai pada usia lebih dari 31 tahun.
Meta-analisis yang diterbitkan pada 2026 juga menemukan hubungan antara DMPA dan meningioma, dengan asosiasi yang lebih kuat pada penggunaan jangka panjang.
Meski demikian, temuan tersebut merupakan hubungan berdasarkan penelitian observasional dan tidak berarti seluruh pengguna kontrasepsi tersebut akan mengalami meningioma. Risiko absolutnya juga tetap relatif rendah. Karena itu, penggunaan kontrasepsi hormonal sebaiknya dibicarakan dengan dokter dengan mempertimbangkan kondisi dan riwayat kesehatan masing-masing.
Selain tumor otak, dr. Ryan menyoroti pentingnya menjaga kesehatan otak untuk menurunkan risiko berbagai gangguan neurologis, termasuk stroke.
Menurutnya, pemeriksaan kesehatan rutin seharusnya tidak hanya berfokus pada organ-organ lain, tetapi juga memperhatikan faktor risiko yang berkaitan dengan kesehatan otak.
“Saya selalu bilang, sayangnya di medical check-up kita, satu-satunya organ yang nggak bisa ditransplantasi, yaitu otak, nggak pernah dicek,” kata dr. Ryan.
Baca Juga: Sering Overwhelmed? Ini 3 Cara Reset Otak Berdasarkan Neurosains