Growthmates, apa hubungan antara pasar saham dan segelas bir? Menurut penulis bidang keuangan JL Collins, keduanya memiliki kesamaan yang menarik.
Melalui analogi sederhana tentang bir dan busanya, Collins menjelaskan bagaimana investor seharusnya melihat harga saham dan membedakan antara nilai sebuah bisnis dengan sentimen pasar yang menyelimutinya.
Dalam wawancara di acara The Diary of a CEO, Collins menggambarkan harga saham sebagai perpaduan antara dua komponen, yakni 'bir' dan 'busa'.
"Harga saham merupakan kombinasi dari dua hal. Yaitu birnya itu sendiri, dan busanya," terang Collins dalam wawancara tersebut.
Dalam analogi Collins, bir menggambarkan nilai fundamental sebuah perusahaan. Di dalamnya terdapat berbagai aspek yang benar-benar menentukan kualitas bisnis, seperti penjualan, beban, laba, hingga kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sementara itu, busa menggambarkan berbagai faktor yang berasal dari sentimen pasar. Emosi investor, hype, spekulasi, ketakutan, dan keserakahan termasuk di dalamnya.
Sama seperti busa pada permukaan bir yang dapat mengembang dan menyusut, sentimen tersebut juga dapat berubah dengan cepat sehingga membuat harga saham terlihat berbeda dari nilai bisnis yang sebenarnya.
Menurut Collins, volatilitas pasar pada dasarnya bekerja dengan mekanisme yang serupa. Harga saham dapat bergerak naik dan turun mengikuti perubahan persepsi investor, meskipun kondisi fundamental perusahaan tidak mengalami perubahan yang berarti.
Dengan kata lain, busa dapat berubah dengan cepat, sedangkan 'bir' di dalam gelas cenderung jauh lebih stabil.
Di sinilah kemampuan seorang investor diuji. Investor yang berhasil dalam jangka panjang perlu mampu membedakan mana perubahan harga yang mencerminkan perubahan nilai bisnis dan mana yang sekadar merupakan perubahan sentimen pasar.
Collins kemudian mengaitkan pendekatan tersebut dengan kesuksesan Warren Buffett dalam berinvestasi.
Menurutnya, salah satu kemampuan penting Buffett adalah mengenali ketika sebuah perusahaan memiliki 'sedikit busa', bahkan ketika sentimen pasar terhadap perusahaan tersebut sangat negatif.
Baca Juga: Cara Warren Buffett Menguji Keputusan agar Tak Merusak Reputasi