Lebih lanjut, dr. Ryan pun mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan otak saat melakukan pemeriksaan kesehatan.
Namun, pemeriksaan pencitraan otak secara rutin pada orang yang tidak memiliki gejala bukan berarti selalu diperlukan. Pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan faktor risiko, keluhan, dan penilaian dokter.
Kebiasaan merokok juga menjadi perhatian. Menurut dr. Ryan, pasien yang memiliki kebiasaan merokok, terutama perokok berat, dapat menghadapi tantangan dalam proses pemulihan setelah operasi.
“Rata-rata pasien yang ngerokok, terutama heavy smoker, penyembuhan luka operasinya jelek,” ujarnya.
Karena itu, berhenti merokok menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan sekaligus mendukung proses pemulihan ketika seseorang membutuhkan tindakan operasi.
Dr. Ryan juga menyinggung konsumsi alkohol dan kaitannya dengan kesehatan otak. Ia menyarankan agar masyarakat tidak memulai kebiasaan tersebut dan bagi mereka yang sudah mengonsumsi alkohol, mempertimbangkan untuk menghentikannya.
“Alkohol, better not start, you have to stop. Setiap kita minum alkohol, akan ada sel otak yang rusak,” kata dr. Ryan.
Menariknya, dr. Ryan juga memberikan tips sederhana bagi orang berusia 50 tahun ke atas yang ingin menjaga daya ingat. Menurutnya, otak perlu terus diberi tantangan agar tetap aktif.
“Ya, itu di-challenge dan belajar bahasa baru,” tutur dr. Ryan.
Mempelajari bahasa baru merupakan salah satu bentuk aktivitas yang menantang otak karena melibatkan proses belajar, mengingat, dan menggunakan informasi baru.
Baca Juga: Sering Lupa dan Sulit Konsentrasi? Ini Kombinasi Makanan Kaya Nutrisi yang Mendukung Fungsi Otak