Fenomena yang menimpa grup musik Juicy Lucy di jagat media sosial belakangan ini menjadi perhatian akademisi dan Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali.
Grup band tersebut sebelumnya dijadwalkan tampil dalam sebuah pertunjukan, tetapi kemudian tidak hadir setelah tiket terjual dan pengumuman mengenai penampilan mereka disampaikan kepada publik.
Rhenald menilai, persoalan tersebut dapat menjadi pelajaran penting mengenai arti profesionalisme, terutama bagi generasi muda.
Menurutnya, profesionalisme tidak hanya berbicara tentang kemampuan menjalankan pekerjaan, tetapi juga bagaimana seseorang bertanggung jawab terhadap komitmen yang telah dibuat.
“Ini adalah soal harga dari sebuah profesionalisme. Saya mengajak kalian berpikir tentang pentingnya kita memahami profesionalisme. Apa sih artinya? Artinya selesaikan masalah sebelum masalah itu menjadi persoalan,” kata Rhenald, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @rhenald.kasali, Senin (14/9/2026).
Founder Rumah Perubahan itu mengatakan, ketika seseorang sudah membuat komitmen untuk hadir atau menjalankan suatu pekerjaan, komitmen tersebut harus sebisa mungkin dituntaskan.
Jika muncul kendala, kata dia, persoalan seharusnya segera dicari jalan keluarnya sebelum berdampak lebih luas.
“Kalau kita sudah komit, datang, selesaikan,” katanya
Rhenald juga menekankan pentingnya memastikan persoalan internal tidak menyeret pihak-pihak yang sebenarnya tidak berkaitan.
Dalam kasus pertunjukan, misalnya, penonton telah meluangkan waktu, membeli tiket, bahkan sebagian mungkin datang dari daerah yang jauh demi menyaksikan penampilan yang dijanjikan.
“Jangan libatkan pihak yang tidak perlu terlibat menjadi terlibat. Siapa? Penonton,” kata Rhenald.
Menurut dia, penonton bukan sekadar orang yang membeli tiket. Mereka telah mengalokasikan waktu, tenaga, dan biaya untuk menghadiri sebuah pertunjukan.
Karena itu, ketika pertunjukan batal atau pihak yang dijanjikan tampil justru tidak hadir, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh penyelenggara.
“Penonton itu barangkali sudah meluangkan waktu, ngatur waktu, ikut war ticket, kemudian sudah datang dari pulau yang jauh, dari tempat yang jauh. Mereka barangkali berdesak-desakan, keluar uang. Eh pas datang tidak ada kalian,” tuturnya.
Rhenald kemudian menyinggung alasan over baggage atau kelebihan bagasi yang disebut menjadi salah satu persoalan dalam perjalanan. Menurutnya, persoalan teknis seperti kelebihan bagasi merupakan hal yang dapat dialami siapa saja dan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan komitmen profesional.
“Kalau soal over baggage, kelebihan bagasi, semua selebriti mengalami,” ujar Rhenald.
Baca Juga: Rhenald Kasali Ingatkan Bank Mandiri soal Pemblokiran Rekening: Jangan Kehilangan Trust!