Pilpres 2029 memang masih beberapa tahun lagi. Namun, peta politik menuju pesta demokrasi tersebut mulai menjadi bahan perbincangan, termasuk soal siapa yang berpotensi mendampingi Presiden Prabowo Subianto jika kembali maju sebagai calon presiden.
Pengamat politik Hendri Satrio alias Hensa menilai Prabowo memiliki cukup banyak pilihan untuk posisi calon wakil presiden (cawapres). Menurutnya, Prabowo setidaknya memiliki dua opsi, yakni memilih kader Partai Gerindra atau menggandeng tokoh nonpartai.
Bahkan, Hensa menilai Prabowo belum tentu kembali berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.
"Prabowo di 2029 mungkin sepertinya bisa saja tidak memilih Gibran lagi. Menurut saya, dia mungkin akan memilih tokoh dari partainya sendiri, Gerindra, atau tokoh nonpartai yang tidak memiliki ambisi politik besar sehingga bisa fokus bekerja," kata Hensa, dikutip Sabtu (12/9/2026).
Jika memilih tokoh nonpartai, sejumlah nama disebut berpeluang masuk radar Prabowo. Mereka antara lain Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman.
Hensa menilai masing-masing figur memiliki alasan tersendiri untuk dipertimbangkan.
"Kapolri bisa saja diambil jadi calon pendamping Prabowo, dan ini bisa jadi alasan kuat mengapa Listyo Sigit tidak tergantikan sebagai Kapolri saat ini," ujarnya.
Sementara itu, Teddy dinilai memiliki kedekatan dan loyalitas kepada Prabowo. Posisi sebagai Sekretaris Kabinet juga membuatnya cukup memahami pola kerja pemerintahan Prabowo.
"Kalau Seskab Teddy kan jelas dia loyalis dan dia cukup mengerti Prabowo saat ini," kata Hensa.
Nama Amran juga dianggap memiliki peluang. Hensa menyoroti sejumlah pujian yang diberikan Prabowo kepada Menteri Pertanian tersebut selama menjalankan tugasnya di pemerintahan.
"Dan Amran merupakan salah satu menteri yang kalau dilihat, sering mendapat pujian dari Prabowo," tuturnya.
Selain tokoh nonpartai, Prabowo juga dinilai memiliki sejumlah pilihan dari internal Gerindra. Menurut Hensa, keputusan memilih kader sendiri dapat memberikan keuntungan politik bagi partai yang dipimpin Prabowo tersebut.
Pasalnya, figur dari Gerindra berpotensi ikut membawa kekuatan elektoral pemerintahan Prabowo ke Pemilu 2034.
"Kenapa saya sebut Gerindra? Karena Prabowo saya yakin akan membesarkan Gerindra untuk bertarung lebih jauh di 2034. Kalau sampai dia pilih tokoh dari partai lain, dia artinya membesarkan partai lain," jelas Hensa.
Beberapa nama dari internal Gerindra yang disebut Hensa antara lain Menteri Luar Negeri sekaligus Sekjen Gerindra Sugiono, Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono, serta Menteri Koperasi Ferry Juliantono.
Selain itu, Hensa juga memasukkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam daftar figur yang berpotensi dipertimbangkan. Meski bukan kader Gerindra, Dedi memiliki basis massa yang dinilai cukup kuat.
"Tokohnya kalau di Gerindra ada Menteri Luar Negeri Sugiono yang kini juga jadi Sekjen Gerindra, Sudaryono yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, ada Menteri Koperasi Ferry Juliantono, dan juga bisa saja memilih Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang basis massanya juga tak bisa dibilang kecil," katanya.
Menurut Hensa, pilihan Prabowo pada 2029 nantinya bukan sekadar soal mencari pasangan untuk memenangkan Pilpres. Keputusan tersebut juga dapat menentukan arah kekuatan politik hingga 2034.
Karena itu, ia menilai memilih kader Gerindra atau tokoh nonpartai bisa menjadi opsi yang relatif aman bagi Prabowo.
"Intinya, saya yakin kalau Pak Prabowo tidak akan membiarkan dirinya membesarkan partai lain selain Gerindra," pungkas Hensa.