Di industri makanan dan minuman, angka penjualan sering kali menjadi tolok ukur utama untuk menilai keberhasilan sebuah brand.

Namun, menurut CEO F&B ID Kawan Lama Group, Devin Widya Krisnadi, capaian penjualan yang tinggi tidak selalu mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

Devin menilai bahwa performa penjualan, terutama pada periode awal operasional, sering kali memberikan gambaran yang menyesatkan.

Antusiasme pelanggan pada masa pembukaan atau dalam beberapa bulan pertama belum tentu menunjukkan bahwa sebuah bisnis akan bertahan dalam jangka panjang.

“Di F&B itu saya bisa bilang bahwa sales adalah sebuah ilusi sebenarnya. Sales yang bagus di hari pertama, dua bulan pertama, enam bulan pertama, bukan berarti bisnisnya bagus,” ujar Devin.

Menurutnya, banyak pelanggan yang datang hanya untuk mencoba sebuah brand baru tanpa kembali lagi di kemudian hari. Hal ini membuat angka penjualan awal terlihat tinggi, tetapi tidak selalu mencerminkan loyalitas pelanggan.

“Sering kali orang hanya mencoba, tapi tidak kembali lagi. Nah kalau orang sudah tidak mau balik, itu gawat,” tambahnya.

Karena itu, Devin menilai indikator yang lebih penting untuk mengukur kesehatan bisnis F&B adalah tingkat loyalitas pelanggan atau customer retention. Bagi perusahaan, kemampuan sebuah brand untuk membuat pelanggan datang kembali justru menjadi kunci keberlanjutan bisnis.

Baca Juga: Ancaman Siber di Era AI, Seberapa Siap Bisnis Menghadapinya?

Di F&B ID, perusahaan memantau metrik ini secara rutin, baik setiap dua minggu maupun secara bulanan. Data tersebut digunakan untuk melihat apakah pelanggan yang pernah datang akan kembali bertransaksi di kemudian hari.