Filianingsih menjelaskan, BI akan memperkuat infrastruktur data dan keamanan siber melalui pemanfaatan teknologi AI dan machine learning untuk mendeteksi potensi fraud secara lebih dini.
Selain itu, lanjut dia, BI juga tengah memfinalisasi rancang bangun infrastruktur sistem pembayaran ritel baru (New BI-FAST) untuk menjamin interoperabilitas dan efisiensi jangka panjang.
“Kami sedang menyiapkan arsitektur baru sistem pembayaran ritel yang lebih kuat, standar, dan tangguh terhadap risiko siber. Semua ini untuk mengantisipasi lonjakan transaksi digital yang diperkirakan mencapai 147 miliar transaksi pada 2030, naik empat kali lipat dibanding 2024,” papar Filianingsih.
Tak hanya itu, BI juga melanjutkan eksplorasi Rupiah Digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC) sebagai wujud komitmen memperkuat kedaulatan moneter di era digital.
Di akhir sambutannya, Filianingsih pun menyampaikan keyakinannya bahwa BSPI 2030 akan menjadi peta jalan transformasi ekonomi digital Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
“BSPI bukan sekadar arah kebijakan, tetapi langkah nyata untuk merajut transformasi ekonomi nasional melalui digitalisasi yang inklusif. Kami percaya, industri sistem pembayaran nasional, termasuk AFTECH yang memiliki peran strategis sebagai mitra Bank Indonesia,” tutup Filianingsih.
Baca Juga: Pernyataan Resmi Bank Indonesia Soal Rencana Menkeu Purbaya Lakukan Redenominasi Rupiah