Tokoh pendidikan sering lahir dari ruang yang tidak terduga, dan itulah yang terjadi pada perjalanan hidup Heni Sri Sundani. Ia dikenal sebagai penggerak literasi asal Jawa Barat yang mengabdikan diri untuk anak-anak petani dan keluarga TKI, kelompok yang selama ini sulit mendapat akses belajar.

Pengalaman sebagai TKW di Hong Kong pada 2005–2011 membuka mata Heni tentang kenyataan pahit, bahwa banyak anak desa kehilangan kesempatan meraih masa depan hanya karena lahir di lingkungan miskin dan jauh dari informasi.

Berangkat dari kegelisahan itu, Heni menggagas gerakan ‘Anak Petani Cerdas’. Dikutip dari LinkedIn pribadinya, Heni mendeskripsikan dirinya sebagai pendidik, wirausaha sosial, konsultan, pembicara publik, dan bahkan ibu bagi ribuan anak petani, serta figur yang masuk jajaran 30 Under 30 Forbes Asia dan penerima penghargaan pemberdayaan perempuan Her Times Singapore.

Ketekunan belajar di sela bekerja membuatnya juga menyelesaikan pendidikan manajemen di Saint Mary’s University Hong Kong pada 2008–2011, periode yang membentuk keyakinannya bahwa kepemimpinan harus selalu berpihak pada komunitas.

Lantas, seperti apa sosok Heni Sri Sundani di balik seluruh kiprahnya itu? Dikutip dari berbagai sumber, Rabu (37/1/2026), berikut ulasan Olenka tentang perjalanan hidup dan nilai yang ia pegang hingga hari ini.

Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi

Heni Sri Sundani lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 2 Mei 1987 dari keluarga buruh tani yang hidup dengan keterbatasan ekonomi. Dikutip dari Kompas.id, masa kecilnya di Dusun Rancatapen diwarnai perjalanan panjang menuju sekolah dasar yang terletak di tengah perkebunan karet, dengan penerangan lampu teplok dan hanya memiliki satu seragam.

Heni dibesarkan oleh nenek yang buta aksara setelah kedua orangtuanya berpisah, sementara ibunya bekerja sebagai buruh pabrik. Nasihat sang ibu agar berharap bertemu presiden, bukan menunggu uang jatuh dari langit, tertanam kuat dan membentuk karakter Heni yang percaya pada ikhtiar serta pendidikan sebagai jalan keluar.

Selepas dewasa ia membangun keluarga bersama suaminya, Aditia Ginantaka, yang kemudian menjadi rekan seperjuangan dalam berbagai gerakan sosial di Bogor.

Pendidikan

Perjalanan pendidikan Heni dapat diurutkan dari tahun terlama hingga terbaru. Ia menamatkan SMKN 1 Banjar pada 2005, lalu berangkat ke Hong Kong dan mulai mengambil diploma komputer informatika pada 2008 serta diploma profesi e-business pada 2009.

Dikutip dari Detik.com, di sela jam kerja sebagai pekerja domestik ia melanjutkan studi Bachelor of Science in Entrepreneurial Management di Saint Mary’s University Hong Kong dan lulus cum laude pada 2011.

Pengalaman akademik itu diperluas dengan studi Entrepreneurial Management di Saint Mary’s University Hong Kong pada 2009 dan kemudian meraih Magister Manajemen di Bumiputera School of Business pada 2016, melengkapi fondasi keilmuan manajemen yang ia gunakan untuk mengelola organisasi berbasis komunitas.

Perjalanan Heni Sri Sundani Menjadi TKW

Fase kariernya sebagai TKW berlangsung pada 2005–2011 di Hong Kong. Ia bekerja sebagai babysitter dengan ritme sangat padat, menghadapi perbedaan bahasa Inggris, Mandarin, dan Kanton yang membuatnya harus belajar cepat agar dapat bertahan.

Dikutip dari Kompas.com, Heni sempat tertipu agen penyalur sehingga data dirinya dituakan dan gajinya dipotong jauh di bawah kontrak. Majikan pertamanya merendahkan kebiasaannya membaca buku, menganggap pembantu tak perlu literasi.

Namun, ia tetap menyembunyikan aktivitas kuliah dan menambah penghasilan melalui magang bank serta menjadi kontributor media berbahasa Indonesia di Hong Kong dan Taiwan.

Tabungan dan hadiah lomba karya tulis ia gunakan untuk membiayai kuliah, sekaligus mengirim sebagian besar gajinya kepada ibu dan nenek di Ciamis. Dari periode inilah Heni belajar bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh label pekerjaan.

Kiprah Heni Sri Sundani

Sekembali ke Indonesia pada 2011, Heni memulai langkah pengabdian secara berurutan. Dikutip dari Detik.com, ia mendirikan perpustakaan pertama di kampung dengan nama ‘Gudang Ilmu’.

Pada Mei 2012 ia resmi menggagas gerakan ‘Anak Petani Cerdas’ yang bermula hanya 15 anak didik, lalu pada Mei 2013 melahirkan AgroEdu Jampang Community sebagai ruang pendampingan petani terintegrasi dengan pendidikan dan kesehatan.

Di Mei 2017 ia memperluas dampak lewat Empowering Indonesia Foundation, sebuah NGO sukarelawan dengan prinsip donasi 100 persen tersalurkan.

Hingga 2023, dikutip dari LinkedIn pribadinya, inisiatif-inisiatif tersebut telah menjangkau puluhan ribu anak dan ratusan ribu keluarga petani melalui penyaluran beasiswa, pendirian perpustakaan komunitas, sekolah gratis, kampung mengaji, serta wisata edukasi pertanian Aceh sampai Papua.

Pada Februari 2024 ia terlibat sebagai mentor Wallacea Project Batch 6 Kemendikbudristek, mentor magang kehutanan sosial berkelanjutan, dan konsultan Entredev 2024 Kemenkop UMKM.

Puncaknya, pada 15 November 2024 metode Empowering Indonesia School (EIS) memperoleh sertifikat paten IDM001340058, melengkapi HAKI yang terbit sejak 2022.

Baca Juga: Profil Suzy Hutomo: CEO The Body Shop Indonesia yang Konsisten Menyuarakan Isu Lingkungan, Pemberdayaan Perempuan dan HAM