Belakangan ini, istilah “super flu” kerap muncul dalam pemberitaan dan perbincangan di media sosial. Sebagian publik mengaitkannya dengan virus baru yang berbahaya, bahkan ada yang menyebutnya lebih ganas dari COVID-19. Padahal, istilah tersebut bukanlah terminologi medis resmi.
“Super flu” merupakan sebutan yang digunakan media untuk menggambarkan varian virus Influenza A (H3N2) subclade K yang tengah mendominasi kasus flu musiman di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Virus H3N2 sendiri bukanlah patogen baru dan telah lama dikenal sebagai salah satu penyebab utama influenza musiman.
Baca Juga: RSV Bukan Flu Biasa, Dokter Ahli Tekankan Pentingnya Edukasi Orang Tua
Istilah “super” disematkan bukan karena tingkat keganasannya, melainkan karena pola penyebarannya yang dinilai lebih cepat akibat mutasi genetik terbaru, yang membuat sistem imun sebagian masyarakat belum sepenuhnya mengenali varian ini.
Mengapa Disebut “Super”?
Sejumlah ahli epidemiologi menilai subclade K memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza musiman sebelumnya. Faktor utama yang memengaruhi hal tersebut adalah perubahan struktur virus yang membuat antibodi hasil infeksi atau vaksin sebelumnya kurang optimal mengenali varian ini.
Meski demikian, hingga kini belum ditemukan bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa varian tersebut menyebabkan tingkat keparahan penyakit yang lebih tinggi atau angka kematian yang meningkat secara signifikan dibandingkan influenza musiman lainnya.
Gejala Masih Serupa Flu Musiman
Dari sisi klinis, gejala yang ditimbulkan oleh Influenza A (H3N2) subclade K tidak jauh berbeda dengan flu musiman pada umumnya. Pasien umumnya mengalami demam, batuk, pilek atau hidung tersumbat, sakit kepala, nyeri tenggorokan, nyeri otot, serta kelelahan.
Baca Juga: 5 Minuman yang Bisa Bantu Redakan Flu dan Batuk, Cobain Yuk!
Karena kemiripan gejala tersebut, tenaga medis tidak dapat membedakan varian ini dari flu biasa hanya melalui pemeriksaan fisik. Identifikasi varian hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk analisis genom virus.
Para ahli juga mencatat bahwa, meskipun istilah “super flu” terkesan mengkhawatirkan, tidak ada bukti kuat bahwa varian ini menimbulkan gejala yang secara drastis lebih berat. Namun, seperti influenza pada umumnya, risiko komplikasi tetap lebih tinggi pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta.
Penyebaran Global dan Situasi di Indonesia
Varian H3N2 subclade K menjadi perhatian otoritas kesehatan di berbagai negara selama musim flu 2025–2026. Di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan sejumlah negara Eropa, varian ini tercatat sebagai penyebab utama lonjakan kasus influenza pada musim dingin, disertai peningkatan rawat inap.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 62 kasus Influenza A (H3N2) subclade K hingga akhir Desember 2025. Kasus tersebut tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas pasien berasal dari kelompok usia anak-anak dan perempuan, meski infeksi juga terjadi pada kelompok usia lainnya.
Baca Juga: Kalbe Gelar Diskusi Daring tentang Influenza: Bisa Sebabkan Pneumonia
Kasus-kasus ini terdeteksi melalui sistem surveilans influenza nasional yang rutin dilakukan, termasuk pemeriksaan whole genome sequencing (WGS). Subclade K telah terpantau sejak Agustus 2025 melalui sistem sentinel di fasilitas kesehatan, dengan konfirmasi genom selesai pada 25 Desember 2025. Artinya, kemunculan varian ini bukan kejadian mendadak, melainkan hasil pemantauan berkelanjutan.
Otoritas kesehatan menegaskan bahwa hingga akhir 2025, situasi di Indonesia masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan keparahan maupun kematian yang melampaui pola influenza musiman biasa.
Klarifikasi Isu “Lebih Berbahaya dari COVID-19”
Seiring meningkatnya perhatian publik, beredar pula klaim di media sosial yang menyebut “super flu” lebih berbahaya daripada COVID-19. Klaim tersebut telah dibantah oleh berbagai lembaga pemeriksa fakta.
Pemerintah menegaskan bahwa Influenza A (H3N2) subclade K bukan virus baru dan tidak memiliki karakteristik seperti SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Penilaian ini sejalan dengan pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menyatakan bahwa meskipun subclade K saat ini dominan, tidak terdapat bukti peningkatan signifikan dalam tingkat keparahan penyakit.
Kekhawatiran publik dinilai lebih dipicu oleh pengalaman kolektif selama pandemi COVID-19, di mana setiap istilah baru terkait virus mudah memunculkan kecemasan. Oleh karena itu, penyampaian informasi yang proporsional menjadi krusial agar kewaspadaan tidak berubah menjadi kepanikan.
Pencegahan dan Peran Vaksinasi
Otoritas kesehatan tetap menekankan pentingnya langkah pencegahan dasar, seperti menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk, menghindari kerumunan saat musim flu, serta menjaga daya tahan tubuh.
Vaksin influenza tahunan juga direkomendasikan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi. Meskipun vaksin yang tersedia mungkin tidak sepenuhnya cocok dengan subclade K, berbagai studi menunjukkan bahwa vaksinasi tetap efektif dalam menurunkan tingkat keparahan penyakit, risiko rawat inap, dan angka kematian akibat influenza.
Menempatkan Informasi Secara Proporsional
Secara ringkas, “super flu” merupakan istilah populer untuk menggambarkan varian Influenza A (H3N2) subclade K yang memiliki tingkat penyebaran lebih cepat. Varian ini tidak menyebabkan penyakit yang berbeda secara signifikan dari flu musiman, dan situasi di Indonesia hingga akhir 2025 masih berada dalam kondisi terkendali.
Daripada terjebak pada narasi virus baru yang menakutkan, pendekatan yang lebih tepat adalah memahami pola epidemiologi, memperkuat sistem surveilans, serta mengedepankan pencegahan melalui vaksinasi dan perilaku hidup sehat. Langkah tersebut dinilai lebih efektif dalam menjaga ketenangan publik sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan masyarakat.