Selain meningkatkan asupan kalori, mengonsumsi mentega dalam jumlah besar sekaligus juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada sistem pencernaan. Kandungan lemak yang tinggi dapat memperlambat pengosongan lambung sehingga seseorang merasa terlalu kenyang, begah, atau mual. Pada sebagian orang, kondisi tersebut juga dapat disertai gangguan pencernaan lainnya.
“Makanan yang sangat berlemak juga merangsang kontraksi kandung empedu. Pada orang yang memiliki batu empedu atau gangguan kandung empedu, konsumsi makanan berlemak dapat memicu nyeri atau ketidaknyamanan pada perut,” tambahnya.
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan kadar lemak dalam darah setelah makan. Konsumsi makanan tinggi lemak dapat meningkatkan kadar trigliserida sementara setelah makan, suatu kondisi yang dikenal sebagai postprandial lipemia.
Menurut Prof. Sri Anna, apabila kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak secara berlebihan berlangsung terus-menerus, pola tersebut dapat berkontribusi terhadap gangguan profil lemak darah dan meningkatkan risiko masalah kardiovaskular maupun metabolik.
Pembatasan konsumsi mentega dan makanan tinggi lemak perlu mendapat perhatian khusus pada orang dengan dislipidemia atau gangguan kadar lemak darah, penyakit jantung koroner, maupun risiko penyakit kardiovaskular yang tinggi. Hal serupa berlaku bagi individu dengan diabetes yang disertai gangguan lemak darah, obesitas, perlemakan hati (fatty liver), serta riwayat batu empedu.
Meski demikian, bukan berarti mentega dan margarin harus sepenuhnya dihindari. Keduanya tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah terbatas dan disesuaikan dengan kebutuhan energi harian.
Prof. Sri Anna menekankan bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan menghindari satu jenis makanan. Masyarakat perlu menerapkan prinsip gizi seimbang, mulai dari memenuhi kebutuhan energi, mengonsumsi protein berkualitas, memperbanyak sayur dan buah, hingga membatasi asupan gula, garam, dan lemak.
“Mentega dan margarin bukan makanan yang perlu ditakuti, tetapi juga bukan makanan yang dibolehkan dimakan langsung dalam jumlah besar,” ujar Prof. Sri Anna.
Baca Juga: Tren Bed Rotting pada Gen Z, Pakar Ingatkan Batas Sehat Istirahat