Growthmates, batuk, pilek, dan demam yang tak kunjung reda kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika gejalanya berlangsung hingga berminggu-minggu. Keluhan yang awalnya menyerupai flu biasa ini bisa bertahan lebih lama dari perkiraan. Meski tidak selalu mengindikasikan kondisi serius, gejala yang menetap atau justru memburuk perlu diwaspadai dan mendapat penanganan yang tepat.
Dokter Klinik IPB University, dr. Wahyu Rachwaldy, mengungkapkan, keluhan infeksi saluran pernapasan yang berlangsung lama dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari sirkulasi virus, respons sistem kekebalan tubuh, hingga kondisi lingkungan.
Karena itu, flu yang terasa lebih membandel tidak semata-mata merupakan persepsi masyarakat, melainkan kondisi yang perlu dipahami berdasarkan penyebab dan perjalanan penyakitnya.
“Laporan dari berbagai lembaga kesehatan global dan nasional, termasuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC) serta Kementerian Kesehatan RI, mengonfirmasi adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan gejala yang bertahan lebih lama (protracted viral symptoms),” ungkap dr. Wahyu, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Senin(12/10/2026).
Dijelaskan dr. Wahyu, salah satu faktor yang dapat memengaruhi durasi dan tingkat keparahan gejala adalah beredarnya berbagai jenis virus pernapasan secara bersamaan di masyarakat.
Virus tersebut antara lain influenza A dan B, respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, adenovirus, hingga SARS-CoV-2. Infeksi oleh virus yang berbeda dapat menimbulkan gejala serupa, sehingga seseorang bisa mengalami keluhan pernapasan berulang dalam periode yang berdekatan.
Selain itu, terdapat pula konsep post-pandemic immunity debt, yaitu hipotesis bahwa perubahan pola paparan terhadap patogen selama pandemi dapat memengaruhi respons kekebalan tubuh ketika kembali terpapar berbagai virus. Namun, kondisi ini bukan satu-satunya penjelasan untuk gejala berkepanjangan. Jenis virus yang menginfeksi, kondisi kesehatan individu, serta kemungkinan komplikasi juga perlu diperhitungkan.
“Selain itu, terdapat pula fenomena post-pandemic immunity debt, yakni ketika perubahan pola paparan patogen selama beberapa tahun terakhir membuat sistem imun tubuh harus kembali menyesuaikan diri saat terpapar banyak virus secara beruntun,” imbuhnya.
Untuk memahami apakah flu masih berada dalam batas normal, masyarakat perlu mengenali pola perjalanan infeksi saluran pernapasan atas tanpa komplikasi. Pada hari pertama hingga ketiga, gejala biasanya mencapai puncaknya, seperti demam, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, pegal-pegal, dan tubuh terasa lemas.
Memasuki hari keempat hingga ketujuh, demam umumnya mulai mereda dan kondisi tubuh berangsur pulih, kata dr. Wahyu, meskipun batuk dan pilek masih dapat bertahan.
“Pada akhirnya, orang dengan sistem imun sehat umumnya mengalami penyembuhan total dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari, meskipun sisa gejala ringan seperti batuk kering wajar bertahan hingga dua minggu,” jelas dr Wahyu.
Meski demikian, durasi pemulihan setiap orang dapat berbeda, bergantung pada jenis infeksi dan kondisi kesehatan masing-masing. Batuk yang tersisa setelah gejala lain membaik juga tidak selalu berarti infeksi masih aktif. Peradangan yang tertinggal pada saluran pernapasan dapat membuat batuk bertahan lebih lama.
dr. Wahyu bilang, masyarakat perlu lebih waspada apabila gejala utama, seperti demam, sesak napas, atau batuk berdahak kental, berlangsung lebih dari 10–14 hari tanpa menunjukkan perbaikan. Kondisi yang sempat membaik, kemudian kembali memburuk, juga perlu diperhatikan.
“Masyarakat juga perlu mewaspadai double sickening, yakni kondisi ketika sempat membaik selama satu hingga dua hari, kemudian kembali memburuk secara drastis dengan demam tinggi atau sesak napas,” papar dr. Wahyu.
Baca Juga: Bikin Tidur Gak Nyenyak! Ini 7 Penyebab Batuk Kering Terasa Lebih Parah di Malam Hari