Pengamat Politik dan Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saiful Mujani mengklaim pemerintah Presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendapat nilai minus selama dua tahun masa pemerintahan mereka.
Menurutnya, mayoritas masyarakat dari Aceh hingga Papua sudah mulai kesal dan marah atas pemerintahan Prabowo-Gibran yang baru berusia dua tahun ini. Pemerintah kata dia kehilangan legitimasi karena berbagai kebijakan yang dipandang amburadul.
“Tanya sama orang dari Aceh sampai Papua. Kalau ditanya sekarang, hampir bisa dikatakan sudah minus legitimasi itu, dan umumnya rakyat sudah marah. Tentu saja ada yang tidak marah, tapi umumnya sudah marah, dari Aceh sampai Papua," kata Saiful dikutip Selasa (20/10/2026).
Bukti-bukti kekesalan masyarakat atas pemerintahan Prabowo-Gibran terekam dalam hasil survei terbaru SMRC pada 1 hingga 10 Oktober 2026 lalu. Hasil survei itu menyebut tingkat keterpilihan Prabowo anjlok hingga 9,8 persen. Dimana jika Pilpres digelar saat survei dilakukan, maka Prabowo dipastikan kalah telak dari sejumlah tokoh seperti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bahkan ia juga kalah dari wakilnya Gibran Rakabuming Raka.
Saiful menyimpulkan bahwa jika pemilihan umum diselenggarakan hari ini, mayoritas absolut masyarakat tidak akan bersedia lagi memberikan suaranya untuk pasangan Prabowo-Gibran. Saking marahnya masyarakat, ia menegaskan bahwa pihak penguasa harus mulai mawas diri dan menyadari bahwa mandat kekuasaan mereka secara sosiologis sebenarnya sudah runtuh.
Meski demikian, klaim hilangnya legitimasi tersebut dibantah keras oleh Istana. Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Syahganda Nainggolan tampil ke publik untuk menetralisir narasi kemarahan rakyat yang digaungkan oleh SMRC.
Syahganda menegaskan bahwa kepercayaan publik terhadap pemerintah masih sangat solid dan terjaga di level yang memuaskan. Ia menyodorkan data pembanding dari berbagai lembaga riset lain yang menunjukkan potret sebaliknya.
"Hari ini kan Poltracking juga 55 persen ya. PPI 65 persen tingkat kepuasannya (Prabowo)," ujar Syahganda.
Ia mengklaim bahwa capaian dukungan terhadap presiden saat ini bahkan jauh melampaui persentase perolehan suara pada saat masa pemilihan lalu, terbalik dengan apa yang digaungkan oleh SMRC.