Growthmates, tren mengonsumsi mentega (butter) dan margarin secara langsung dalam jumlah besar tengah ramai di media sosial. Meski terlihat seperti tantangan makan biasa, kebiasaan ini berpotensi meningkatkan asupan lemak dan energi secara berlebihan serta menimbulkan gangguan kesehatan, terutama jika dilakukan berulang kali.
Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengikuti tren tanpa memahami dampaknya bagi tubuh.
Menurutnya, mentega dan margarin merupakan bahan pangan tinggi lemak yang sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar, bukan dimakan langsung dalam porsi besar.
“Margarin merupakan sumber lemak yang sangat padat energi. Satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 Kkal, sehingga konsumsi langsung dalam jumlah banyak dapat dengan cepat meningkatkan asupan energi,” jelas Prof. Sri Anna, dikutip dari laman resmi IPB, Selasa (20/10/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa margarin tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai pangan yang buruk. Dampaknya terhadap kesehatan perlu dilihat berdasarkan komposisi asam lemak, jumlah konsumsi, serta pola makan seseorang secara keseluruhan.
Margarin lunak yang dibuat dari minyak nabati umumnya memiliki proporsi lemak tak jenuh lebih tinggi dibandingkan mentega. Sebaliknya, mentega cenderung mengandung lebih banyak lemak jenuh. Meski begitu, kandungan lemak trans pada margarin juga perlu diperhatikan saat memilih produk.
Karena itu, Prof. Sri Anna menyarankan agar margarin digunakan secukupnya sebagai bagian dari makanan sehari-hari, misalnya untuk olesan roti atau menumis sayuran. Penggunaan margarin secara berlebihan pada makanan seperti martabak manis juga perlu dibatasi karena dapat meningkatkan asupan lemak dan energi.
Baca Juga: Tren Warteg Fancy Menjamur, Ini Strategi Bisnis Kuliner Menarik Konsumen