Sejumlah brand yang beredar di Indonesia memiliki nama, desain, hingga konsep pemasaran yang terkesan internasional. Hal tersebut membuat sebagian masyarakat mengira brand tersebut berasal dari luar negeri. Padahal, beberapa di antaranya merupakan brand yang lahir dan berkembang di Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas sebuah brand tidak selalu mudah dikenali hanya melalui nama atau tampilannya. Ada brand lokal yang berhasil membangun citra profesional dan memperluas jangkauan bisnisnya hingga ke pasar internasional.

Mulai dari makanan dan minuman hingga perlengkapan kegiatan luar ruang, berikut lima brand Indonesia yang kerap dikira berasal dari luar negeri:

1. J.CO Donuts & Coffee

J.CO Donuts & Coffee merupakan salah satu brand makanan dan minuman yang populer di Indonesia. Dengan sajian donat, kopi, serta konsep gerai modern, merek ini kerap diasosiasikan dengan jaringan kedai internasional.

Namun, J.CO merupakan brand asal Indonesia yang didirikan oleh pengusaha Johnny Andrean. Gerai pertamanya dibuka di Indonesia pada 2005, sebelum bisnisnya berkembang ke sejumlah negara lain, termasuk Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Penggunaan nama berbahasa Inggris, pilihan menu, serta konsep kedai yang modern menjadi sejumlah karakteristik yang membuat J.CO memiliki citra internasional. Meski demikian, perjalanan bisnisnya berawal dari pasar domestik.

Keberhasilan J.CO memperluas jangkauan bisnis ke luar Indonesia juga memperlihatkan bahwa brand lokal mampu mengembangkan konsep bisnis yang kompetitif di tengah persaingan industri makanan dan minuman.

Baca Juga: 5 Brand yang Berhasil Jadi Top of Mind Masyarakat Indonesia

2. Eiger

Bagi pencinta kegiatan luar ruang, nama Eiger tentu sudah tidak asing lagi. Brand ini dikenal melalui beragam produk perlengkapan petualangan, mulai dari tas, jaket, hingga perlengkapan pendukung aktivitas di alam bebas.

Meski namanya diambil dari Eiger, sebuah gunung di Pegunungan Alpen, Swiss, brand ini berasal dari Indonesia. Eiger didirikan oleh Ronny Lukito dan mulai berkembang sebagai merek perlengkapan luar ruang sejak 1989.

Nama yang terinspirasi dari salah satu gunung di Eropa tersebut memberikan kesan yang erat dengan dunia pendakian dan petualangan. Identitas ini sejalan dengan karakter produk Eiger yang menyasar konsumen dengan minat terhadap aktivitas luar ruang.

Seiring perkembangannya, Eiger tidak hanya dikenal di pasar domestik, tetapi juga telah memperluas jangkauan ke pasar internasional. Hal tersebut menjadikannya salah satu contoh brand lokal yang berhasil membangun identitas kuat di industri perlengkapan petualangan.

3. The Executive

Nama The Executive mungkin terdengar seperti merek fashion yang berasal dari Eropa atau Amerika Serikat. Terlebih, brand ini dikenal melalui koleksi pakaian bergaya formal dan kasual yang banyak dijumpai di pusat perbelanjaan.

Namun, The Executive merupakan brand fashion asal Indonesia yang berada di bawah naungan Delamibrands. Merek ini dikenal melalui produk pakaian kerja, terutama busana formal yang menyasar konsumen profesional.

Pemilihan nama berbahasa Inggris dan penggunaan konsep yang modern memberikan kesan internasional pada brand tersebut. Karakteristik ini membuat The Executive kerap disandingkan dengan merek fesyen asing yang menawarkan pakaian formal.

Di sisi lain, keberadaan The Executive memperlihatkan perkembangan industri fesyen lokal dalam menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan. Produk pakaian formal yang ditawarkannya juga menunjukkan bahwa brand Indonesia dapat bersaing di segmen pasar yang memiliki banyak pemain internasional.

4. SilverQueen

SilverQueen merupakan merek cokelat yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Produk-produknya mudah ditemukan di berbagai toko dan pusat perbelanjaan, dengan varian cokelat yang identik dengan perpaduan kacang dan cokelat.

Meski demikian, nama SilverQueen yang menggunakan bahasa Inggris membuat sebagian konsumen mengira merek ini berasal dari luar negeri.

Faktanya, SilverQueen memiliki sejarah panjang di Indonesia. Merek ini dikembangkan oleh perusahaan yang berakar di Garut, Jawa Barat, sebelum kemudian menjadi bagian dari industri cokelat nasional yang lebih luas.

SilverQueen dikenal sebagai salah satu merek yang memopulerkan produk cokelat dengan tambahan kacang di pasar Indonesia. Strategi produk dan pemasarannya membuat merek tersebut bertahan serta tetap dikenal oleh berbagai generasi konsumen.

Kisah SilverQueen menunjukkan bahwa merek lokal tidak harus menggunakan nama berbahasa Indonesia untuk membangun kedekatan dengan konsumen. Identitas produk, konsistensi kualitas, dan perjalanan bisnis juga berperan dalam membentuk posisi sebuah merek di pasar.

5. HokBen

HokBen juga termasuk brand yang kerap diasosiasikan dengan bisnis makanan asal Jepang. Nama, menu, dan konsep restorannya yang terinspirasi dari hidangan Jepang membuat sebagian orang mengira jaringan restoran ini merupakan merek asing.

Padahal, HokBen merupakan brand restoran asal Indonesia yang didirikan oleh Hendra Arifin pada 1985. Saat pertama kali beroperasi, restoran ini dikenal dengan nama Hoka Hoka Bento dan membuka gerai pertamanya di kawasan Kebon Kacang, Jakarta.

HokBen menghadirkan berbagai menu bergaya Jepang, seperti hidangan bento, yakiniku, dan chicken teriyaki, yang disesuaikan dengan selera konsumen Indonesia.

Penggunaan konsep makanan Jepang menjadi salah satu daya tarik utama bisnisnya. Namun, identitas kuliner yang diusung tidak mengubah fakta bahwa HokBen lahir dan berkembang di Indonesia.

Perjalanan HokBen memperlihatkan bagaimana pelaku usaha lokal dapat mengadaptasi konsep kuliner dari negara lain dan mengembangkannya menjadi bisnis yang dikenal luas di pasar domestik.

Kelima brand tersebut memperlihatkan bahwa asal usul sebuah merek tidak selalu dapat diketahui hanya dari nama, tampilan produk, atau konsep bisnisnya. J.CO, Eiger, The Executive, SilverQueen, dan HokBen memiliki karakteristik berbeda, tetapi sama-sama berkembang di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka.