Ia menilai kondisi seperti itu justru dapat menciptakan peluang bagi investor untuk membeli bisnis berkualitas dengan harga yang lebih rendah dibandingkan nilai fundamentalnya.

"Sentimen terhadap perusahaan begitu negatif sehingga ia bisa membeli dengan harga sedikit di bawah nilai birnya," beber Collins.

Meski demikian, Collins tidak menyarankan investor untuk berusaha menghilangkan seluruh 'busa' dari pasar.

Menurutnya, hal tersebut hampir mustahil dilakukan, terutama di tengah dinamika pasar modern yang sangat dipengaruhi oleh informasi, sentimen, dan psikologi investor.

"Hal itu akan sangat sulit dilakukan di zaman sekarang," katanya.

Alih-alih mencari perusahaan yang sama sekali terbebas dari sentimen pasar, Collins menyarankan investor mencari bisnis berkualitas yang dapat dibeli pada harga yang wajar.

Ia pun menekankan pentingnya memilih perusahaan yang sebagian besar nilainya berasal dari 'bir', bukan sekadar busa yang terbentuk akibat popularitas atau spekulasi pasar.

"Carilah perusahaan yang bisa dibeli dengan harga wajar dan yang sebagian besar isinya adalah bir; karena jika Anda membeli perusahaan semacam itu—yang secara definisi dikelola dengan sangat baik, memiliki merek kuat, serta memiliki 'parit ekonomi' (moat) yang kokoh, maka perusahaan tersebut akan sulit untuk disaingi," kata Collins.

Analogi segelas bir tersebut pada akhirnya menggambarkan prinsip yang cukup sederhana dalam investasi, yakni harga saham tidak selalu mencerminkan nilai sebenarnya dari sebuah bisnis dalam jangka pendek.

Busa di permukaan dapat berubah mengikuti sentimen, ketakutan, keserakahan, maupun hype pasar. Namun, kualitas bisnis yang berada di baliknya tetap ditentukan oleh fundamental perusahaan.

Bagi investor, tantangannya bukan sekadar menebak ke mana harga saham akan bergerak berikutnya. Yang lebih penting adalah memahami apa yang sebenarnya dibeli, menilai kualitas bisnisnya, dan memastikan harga yang dibayarkan masuk akal dibandingkan dengan nilai yang diperoleh.

Dalam perspektif tersebut, strategi investasi Warren Buffett yang kerap menekankan kualitas bisnis, nilai intrinsik, dan margin of safety dapat dipahami melalui analogi sederhana Collins, yaitu jangan terlalu terpaku pada busa di permukaan, tetapi lihatlah seberapa baik 'bir' yang ada di dalam gelas.

Baca Juga: 4 Prinsip Investasi Warren Buffett yang Penting Dipahami Investor Muda