Growthmates, abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau nyatanya tidak serta-merta menjadi bahan pencemar atau racun bagi ekosistem laut. Dampaknya terhadap perairan sangat bergantung pada jumlah material yang masuk, konsentrasi, serta kondisi oseanografi di wilayah tersebut.

Pakar Oseanografi IPB University, Prof. Agus Atmadippoera, mengatakan, material vulkanik yang jatuh ke laut perlu dilihat berdasarkan konsentrasi, sebaran, serta proses fisik yang terjadi di perairan.

Prof. Agus juga terlibat dalam penelitian bawah laut melalui kerja sama Indonesia dan China, 'Cinodex'.

“Abu vulkanik yang jatuh ke perairan laut tidak serta-merta menjadi bahan pencemar atau racun bagi ekosistem. Itu bergantung pada intensitas dan besarannya,” tutur Prof. Agus Atmadippoera, dikutip dari laman IPB University, Kamis (10/9/2026).

Menurut Prof. Agus, dampak ekologis berpotensi muncul ketika material vulkanik masuk ke perairan dalam jumlah besar.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan kekeruhan air sehingga penetrasi cahaya matahari ke dalam kolom air berkurang. Jika berlangsung cukup signifikan, kondisi itu dapat mengganggu proses fotosintesis organisme laut.

Besarnya dampak juga dipengaruhi kondisi fisik perairan, seperti gelombang, arus, dan pasang surut. Proses pengadukan oleh ketiga faktor tersebut dapat membantu menyebarkan sekaligus mengencerkan material vulkanik di dalam perairan.

“Jadi, dampak abu vulkanik terhadap ekosistem laut tidak bisa dilihat hanya dari keberadaan abunya, tetapi juga dari seberapa banyak material yang masuk dan bagaimana kondisi perairan di sekitarnya,” jelas Agus.

Lebih lanjut, Prof. Agus menjelaskan, kawasan yang berada sangat dekat dengan kawah Gunung Anak Krakatau memiliki karakter ekosistem yang relatif lebih sederhana dan ekstrem. Dasar laut di sekitar pulau-pulau yang berdekatan dengan kawah umumnya tertutup material kasar, seperti pasir, kerikil, dan sisa longsoran material vulkanik.

Kondisinya berbeda dengan wilayah yang lebih jauh dari kawah, terutama di bagian utara perairan. Di kawasan tersebut, lapisan sedimen lebih banyak didominasi lumpur yang tebal. Kondisi ini justru memungkinkan kawasan tersebut memiliki kelimpahan organisme bentik yang relatif lebih tinggi.

Perbedaan karakter dasar perairan tersebut menunjukkan bahwa dampak material vulkanik terhadap kehidupan laut juga sangat bergantung pada kondisi ekosistem dan karakteristik wilayah yang terdampak.

Abu Vulkanik Juga Berpotensi Memberikan Manfaat Ekologis

Pandangan serupa disampaikan Prof. Setyo Budi Susilo, Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University. Menurut Prof. Setyo , abu vulkanik halus yang terbawa ke perairan tidak selalu memberikan dampak buruk bagi lingkungan.

“Abu vulkanik juga dapat berpotensi memberikan manfaat ekologis. Material tersebut mengandung sejumlah mikronutrien, termasuk silika dan besi,” ujarnya, dikutip dari laman IPB University, Kamis (10/9/2026).

Prof. Setyo memaparkan, setelah mengalami pengadukan oleh arus, gelombang, dan pasang surut, unsur-unsur tersebut berpotensi memperkaya ekosistem laut dan mendukung proses fotosintesis.

“Setelah mengalami pengadukan oleh arus, gelombang, dan pasang surut, unsur-unsur tersebut berpotensi memperkaya ekosistem laut dan mendukung proses fotosintesis. Dengan demikian, abu vulkanik tidak selalu menjadi ancaman bagi ekosistem laut,” lanjutnya.

Selain memengaruhi kondisi perairan, erupsi juga dapat membuat ikan berpindah dari area yang dianggap kurang sesuai. Setyo mengatakan perubahan lingkungan, termasuk peningkatan suhu dan kekeruhan air, dapat memengaruhi distribusi ikan.

“Ikan dapat bergerak menuju wilayah yang lebih jauh dari sumber erupsi, termasuk ke arah perairan Samudera Hindia maupun Laut Jawa, bergantung pada kondisi oseanografi dan lingkungan saat erupsi berlangsung,” jelasnya.

Baca Juga: Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bagi Kesehatan, Ini Kata Dokter