Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., menilai dunia saat ini tengah memasuki fase perubahan besar yang ditandai oleh lahirnya era komputasi kuantum. Ia menyebut, pergeseran tersebut bukan sekadar lompatan teknologi, melainkan perubahan cara manusia hidup, berpikir, dan bersaing.

Pandangan itu ia sampaikan merespons tren riset fisika kuantum yang dalam beberapa tahun terakhir mendominasi penghargaan Nobel Fisika. Menurut Rhenald, fenomena tersebut menjadi sinyal kuat bahwa arah peradaban digital global tengah bergeser.

“Para penerima Hadiah Nobel Fisika beberapa tahun terakhir ini berturut-turut berasal dari fisika kuantum. Ini bukan kebetulan, tetapi petunjuk bahwa dunia digital akan segera masuk ke quantum computing,” ujar Rhenald melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya.

Baca Juga: Pandangan Rhenald Kasali Soal Bisnis Thrifting yang Dibidik Pemerintah

Rhenald menjelaskan, inti utama dari komputasi kuantum adalah kecepatan. Ia menilai, manusia sejatinya sudah hidup dalam era percepatan, namun kuantum akan membawa lompatan yang jauh lebih ekstrem.

“Esensinya akan jauh lebih cepat dari apa yang sudah kita jalani,” katanya.

Ia lalu mengaitkan konsep tersebut dengan pengalaman sehari-hari. Perjalanan Jakarta–Surabaya yang dahulu bisa memakan waktu hingga 30 jam kini semakin singkat. Jakarta–Bandung yang sebelumnya harus melewati jalur berliku dan kemacetan, kini dapat ditempuh sekitar setengah jam dengan kereta cepat. Bahkan, pertemuan bisnis atau akademik kini cukup dilakukan secara daring.

Baca Juga: Rhenald Kasali Bicara Potensi Besar Daun Kratom yang Jadi Andalan Petani Kalimantan

“Kecepatan inilah esensi dari quantum computing,” ujarnya.

Menurut Rhenald, percepatan itu bukan sekadar teori. Sejumlah eksperimen menunjukkan komputasi kuantum mampu menyelesaikan persoalan kompleks yang membutuhkan waktu puluhan tahun dengan komputer klasik, hanya dalam hitungan menit.

“Ada pekerjaan yang tadinya puluhan tahun bisa diselesaikan dalam tempo tiga menit,” katanya.

Baca Juga: Rhenald Kasali: Pinjol Ilegal Rugikan Masyarakat hingga Triliunan Rupiah

Lompatan tersebut, lanjut Rhenald, akan mengubah lanskap investasi global, terutama di sektor keuangan dan kesehatan. Di bidang medis, komputasi kuantum membuka peluang deteksi penyakit lebih dini dan metode pengobatan yang sama sekali baru.

"Banyak penyakit bisa diketahui lebih awal, lalu ditangani dengan pendekatan yang berbeda,” ujarnya.

Namun, ia juga mengingatkan sisi lain dari kemajuan tersebut. Kemampuan komputasi kuantum yang sangat kuat berpotensi membuka berbagai rahasia digital.

Baca Juga: Rhenald Kasali Bicara Soal Fenomena Suami-Istri Terapkan Double Income untuk Penuhi Kebutuhan Finansial

“Bukan hanya penyakit, tapi juga password dan rahasia-rahasia lainnya,” kata Rhenald.

Rhenald menyoroti munculnya Post Quantum Cryptography (PQC) sebagai respons atas ancaman tersebut. PQC merupakan algoritma enkripsi baru yang dirancang agar tetap aman di era komputer kuantum, menggantikan sistem kriptografi klasik seperti RSA dan ECC yang dinilai rentan.

Lebih jauh, Rhenald menilai dunia kuantum membawa perubahan mendasar pada cara manusia memahami realitas. Ia menyebutnya sebagai dunia non-linier, di mana proses tidak lagi berjalan lurus dan pasti. Dalam dunia semacam ini, kesalahan, koreksi, dan perbaikan terjadi secara terus-menerus.

“Kuantum itu berputar, tidak linier,” katanya.

Baca Juga: Rhenald Kasali Bicara soal Fenomena ‘Happy Poor’ di Indonesia, Apa Itu?

Era kuantum juga ditandai oleh ketidakpastian yang tinggi. Keterhubungan miliaran manusia di seluruh dunia, ditambah faktor emosi dan persepsi, membuat perubahan berlangsung cepat dan sulit diprediksi. Dampaknya terasa langsung pada pola persaingan.

“Dulu persaingan terjadi antarperusahaan dalam satu industri. Sekarang bergeser menjadi persaingan antar ekosistem, bahkan lintas industri,” ujar Rhenald.

Menurutnya, batas-batas sektor kini semakin kabur karena semuanya saling terhubung. Dalam situasi tersebut, Rhenald menekankan pentingnya kemampuan adaptasi manusia. Ia menilai, keahlian tunggal tidak lagi cukup.

“Kita tidak bisa hanya menguasai satu bidang. Kita harus memahami banyak hal,” katanya. Selain kemampuan teknis, pengetahuan lintas disiplin dan liberal arts tetap dibutuhkan untuk membentuk cara berpikir yang kritis dan reflektif.

Baca Juga: Pesan Rhenald Kasali: Jangan Merusak Nama Baik Anda

Bagi Rhenald Kasali, era kuantum adalah dunia yang penuh peluang sekaligus tantangan. “Ini dunia dengan kecepatan tinggi, penuh rahasia yang bisa terungkap, non-linier, tidak pasti, dan semuanya saling terhubung,” ujarnya.

Di tengah arus perubahan tersebut, ia menegaskan satu hal, yakni manusia yang mampu membaca arah perubahan lebih cepat dari perubahan itu sendiri akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tetap relevan.