Pendiri sekaligus desainer modest wear asal Bandung, Dama Kara, Nurdini Prihastiti, mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan strategi belanja cerdas menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Menurut perempuan yang akrab disapa Dini ini, konsep buy better atau memilih produk berkualitas lebih penting dibandingkan membeli banyak pakaian yang hanya dipakai sesekali.
Dini menilai, dengan pemilihan material dan desain yang tepat, satu helai busana Lebaran bisa diolah menjadi berbagai gaya. Hal ini membuat konsumen tetap tampil menarik tanpa harus membeli banyak pakaian baru setiap tahun.
“Dari membeli lebih baik (buy better) atau punya kualitas yang baik, satu baju yang kita kenakan itu bisa jadi beberapa gaya,” terang Dini, saat press conference serta grand opening Modest Luxe di Sarinah, Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Lebih lanjut, Dini mengatakan bahwa langkah pertama agar pengeluaran tidak membengkak adalah memilih busana yang tahan lama dan mudah dipadupadankan untuk berbagai kesempatan.
Menurutnya, busana Lebaran idealnya tidak hanya cocok untuk silaturahmi, tetapi juga multifungsi dan tetap relevan dipakai ke kantor atau acara formal seperti pesta pernikahan.
Salah satu contohnya adalah kemeja dengan sentuhan teknik sashiko, yaitu sulaman tusukan kecil khas Jepang. Desain ini memungkinkan satu busana memiliki tampilan berbeda tergantung cara memakainya.
“Jadi dia ada kancingnya, tapi kalau dibuka, dia bisa jadi seperti two in one look begitu,” tukasnya.
Kemeja tersebut juga dapat dipadukan dengan obi atau ikat pinggang ala Jepang untuk menciptakan tampilan baru.
“Jadi ada totalnya tiga tampilan begitu. Konsumen itu suka sesuatu yang bisa dipakai untuk beberapa kesempatan ya, jadi kayak cukup beli satu tapi bisa dapat beberapa gaya yang berbeda,” tambah Dini.
Selain menekankan fungsi dan fleksibilitas desain, Dini juga mengungkapkan bahwa Dama Kara konsisten menghadirkan sentuhan kerajinan tangan dalam koleksinya. Teknik tradisional seperti sashiko dan bordir manual menjadi ciri khas yang diminati pasar internasional.
“Konsumen Korea sendiri mereka lebih suka teknik-teknik yang menggunakan sashiko. Jadi mereka sangat menyukai sesuatu yang handcraft seperti itu,” jelasnya.
Menurut Dini, karakter pasar tiap negara memang berbeda. Konsumen di Malaysia, misalnya, cenderung menyukai tunik dengan detail tekstur dan sulaman tangan.
“Di Malaysia itu sendiri beberapa koleksi Dama Kara seperti tunik-tunik itu mereka sangat suka sekali. Mereka suka sekali dengan hal-hal detail seperti sentuhan sashiko tangan,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan bahan seperti linen dan lace yang dipadukan dengan teknik tradisional menjadi identitas yang terus dipertahankan oleh Dama Kara.
“Jadi kita tetap menggunakan sentuhan-sentuhan tradisional di koleksi-koleksi Dama Kara,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Bandung ke Sarinah, Langkah Dama Kara Menyapa Pasar Nasional dan Global