Alih-alih langsung mengerjakan tugas-tugas strategis, Jahja justru kerap diminta membantu pekerjaan sederhana seperti menggandakan dokumen.

Hal ini terjadi karena keterbatasan tenaga pendukung di kantor saat itu.

“Saya dipanggil senior, ‘eh tolong dong fotokopi-in’, karena office boy-nya terbatas. Jadi kadang-kadang kalau lagi banyak kerjaan, kita sebagai junior harus mengerjakan itu,” kenangnya.

Diakui Jahja, situasi tersebut sempat menimbulkan benturan antara ekspektasi dan kenyataan. Namun, alih-alih menyerah, Jahja memilih untuk tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati.

“Kita sudah merasa kuliah di universitas yang terbaik, sudah diterima di kantor akuntan asing, kita harap pamor kita hebat. Tapi, kerjaannya ternyata suruh fotokopi. Nah, apakah kita patah semangat? Tidak, kita harus tetap gigih,” tegasnya.

Dari pengalaman sederhana itulah, ia memetik pelajaran penting bahwa tidak ada pekerjaan yang sia-sia.

Justru, kata dia, sikap profesional dalam menjalankan tugas sekecil apa pun akan membentuk karakter dan membuka jalan menuju kesempatan yang lebih besar di masa depan.

“Apapun yang anda ditugaskan, anda coba kerjakan sebaik mungkin, apapun pekerjaannya itu. Ini bermanfaat untuk anda,” pungkas Jahja.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Investasi ‘Leher ke Atas’ Bisa Mengubah Jalan Hidup Anda