Generasi 80an pasti sudah familiar dengan dua majalah khusus perempuan yang sangat populer pada medio 1980 hingga tahun 2000an. 

Kedua majalah itu secara spesifik membahas hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan perempuan. Majalah Femina dikenal sebagai majalah yang populer membahas kehidupan perempuan dewasa dengan pasar yang menyasar karyawan hingga ibu rumah tangga. Majalah ini secara konsisten mengangkat isu-isu pemberdayaan perempuan, gaya hidup sampai kuliner.

Baca Juga: Biaya MBG Dialokasikan dalam Anggaran Pendidikan, Ketua Banggar Sebut Itu Keputusan Politik yang Sah

Sedangkan Majalah Gadis adalah media sahabat remaja putri usia 13-17 tahun, dikenal dengan ajang populer "Gadis Sampul" Majalah Gadis fokus pada beberapa rubrik yang relevan dengan kehidupan para remaja di era itu. Majalah Gadis membahas fashion, kecantikan, gaya hidup, selebriti, hingga rubrik curhat.

Di balik kepopuleran kedua majalah itu, ada sosok wanita hebat yang mampu membaca kebutuhan dunia perempuan ketika itu, ia hadir mengisi ruang-ruang kosong yang terabaikan ketika media massa kala itu fokus membahas kebisingan dunia politik atau megahnya panggung sepak bola dunia. Ia adalah Supia Latifah Alisjahbana atau yang dikenal luas dengan sapaan Pia Alisjahbana.

Akademisi kelahiran 26 Juli 1933 itu merasa wanita perlu diberi ruang termasuk dalam penyajian pemberitaan media massa, ada banyak kebutuhan informasi yang patut mereka ketahui, maka pada tahun 1972 lahirlah majalah Femina yang disusul Majalah Gadis setahun setelahnya.  Kedua majalah populer itu ia dirikan bersama sahabatnya Widarti Gunawan. 

Dari sini Pia mulai dikenal sebagai pelopor jurnalisme mode, banyak media mula mengadopsi gaya jurnalisme yang disajikan Pia lewat Majalah Femina dan Majalah Gadis.  Topik-topik yang membahas masalah seputar kebutuhan perempuan mulai mendapat tempat khusus. 

Sepak Terjang Pia Alisjahbana

Menjadi tokoh utama dalam revolusi media massa khususnya media perempuan,  Pia tentu dibekali latar belakang pendidikan yang lumayan mentereng. Pia merupakan salah satu orang Indonesia yang digembleng di Universitas Cornell, Amerika Serikat. Di kampus ini ia fokus pada  jurusan Kesusasteraan Inggris Modern. Pia menuntaskan studinya pada 1963.  

Pia memang ditakdirkan lahir dan besar di kalangan keluarga terpelajar, ia merupakan  anak dari pasangan Prof. Ir. R Soerdjomihardjo dan Hisnat Djajadiningrat. Suaminya Sofyan Alisjahbana merupakan  putra dari sastrawan terkenal Sutan Takdir Alisjahbana yang juga turut berperan besar dari balik layar atas lahirnya Majalah Femina dan Majalah Gadis. 

Pia adalah penerima penghargaan  Lifetime Achievement dari Ernts & Young pada tahun 2009 atas kontribusi besarnya dalam perkembangan media massa Indonesia. 

Pia tak hanya berkutat pada dunia jurnalisme, ia dengan segala kemampuannya bisa merambah dunia lain di tengah kesibukannya menahkodai dunia media cetak ternama itu, Pai juga dikenal sebagai salah satu sosok yang aktif di dunia pendidikan. 

American Indonesia Exchange Foundation (AMINEF) merupakan salah satu lembaga yang lahir dari buah pikirannya. Wadah ini dibentuk untuk menyediakan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di Amerika Serikat.

Masih di sektor pendidikan, Pia juga diketahui sempat menjabat menjadi Lektor Kepala Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) dan menjabat sebagai Koordinator Pascasarjana Kajian Wilayah Amerika dan Fakultas Sastra UI.

Pia adalah sosok wanita jenius yang bisa semuanya, di bidang fashion ia juga punya kontribusi besar yang ditunjukan lewat berbagai dukungannya pada ajang fashion bergengsi.

Baca Juga: Mahal, Transaksional dan Brutal, Prabowo dan DPR Kompak Sebut Sistem Politik RI Harus Ditata Ulang

Untuk menghargai Kontribusi Pia dalam dunia fashion, desainer mode papan atas Indonesia yang dikenal dengan rancangan elegan, detail couture rumit, dan siluet feminin yang timeless Didi Budiarjo sampai merancang koleksi khusus yang didedikasikan untuk Pia, dimana koleksinya itu ditampilkan pada ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2017 silam.