Nama tokoh perempuan adat dari Suku Malind di Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend tengah menjadi perhatian publik Tanah Air setelah Mama Sinta sapaan Yasinta Moiwend secara mendadak putar haluan terkait keterlibatannya dalam film dokumenter Pesta Babi.

Mama Sinta yang semula tampil dalam beberapa adegan dokumenter karya jurnalis investigasi Dandhy Laksono itu secara mengejutkan mengaku dirinya adalah korban eksploitasi. 

Baca Juga: Polemik Film Pesta Babi: Jangan Menghakimi Mama Yasinta Moiwend

Keterlibatannya dalam dokumenter yang membongkar dampak Proyek strategis nasional (PSN) di Papua diklaimnya tanpa sepengetahuan dirinya. Perempuan paruh baya itu merasa diperdaya dan ditipu. Dia keberatan dan sama sekali tak mengizinkan visual dirinya yang ditampilkan dalam film tersebut.

Atas alasan sakit hati, Mama Sinta akhirnya melayangkan laporan ke Polda Metro Jaya. Laporan polisi itu menyasar Ketua LBH Papua Merauke berinisial JTW yang dianggap telah menjebak dan melibatkan dirinya secara diam-diam dalam film dokumenter tersebut.

Ini yang kita laporkan ini adalah untuk perorangan. Perorangan, ada Ketua LBH Merauke. Ketua LBH Merauke, ya. Jhon, ini inisialnya adalah JTW," kata penasihat hukum Mama Sinta, Hamonangan Daulay dilansir Minggu (31/5/2026)

Profil Singkat Yasinta Moiwend

Sebelum muncul dalam pusaran konflik film Pesta Babi, Mama Sinta memang sudah dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan adat Papua yang aktif memperjuangkan isu lingkungan di kawasan Papua Selatan.

Wanita dari Suku Marind-Anim di Merauke, Papua Selatan itu sudah bertahun-tahun lamanya dikenal sebagai sosok terdepan dalam memperjuangkan perlindungan tanah ulayat serta menjaga kelestarian ekosistem adat di wilayahnya.

Perjalanan Mama Sinta dalam memperjuangkan lingkungan acap kali membuatnya terseret dalam sengketa besar yang melibatkan perusahaan-perusahaan raksasa yang datang dari luar Papua.

Bahkan Mama Sinta pernah terlibat aktif dalam penolakan proyek Pemerintah Pusat yakini proyek 

pengembangan lumbung pangan atau food estate dan berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai berpotensi mengancam ruang hidup masyarakat adat.

Baca Juga: Gonjang Ganjing Film Pesta Babi, Sakit Hati Mama Yasinta Moiwend Berujung Laporan Polisi

Atas konsistensi dan keberaniannya memperjuangkan hak-hak masyarakat adat serta isu lingkungan, Mama Sinta pernah menerima penghargaan S.K. Trimurti Award 2025 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI).