Pria yang juga seorang diplomat karier serta mantan Duta Besar AS ini pun lantas mengataka , proses tersebut membuat seseorang belajar berbagai aspek kepemimpinan, termasuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan yang tidak selalu mudah.
“Di awalnya tuh nyuruh orang nggak enak, you have to learn to make priority,” tuturnya.
Ia juga menyinggung pentingnya ketegasan seorang pemimpin ketika menghadapi pelanggaran aturan. Dalam pandangannya, pemimpin tidak boleh selalu menghindari keputusan sulit hanya karena merasa tidak enak kepada orang lain.
“And you have to learn how to hurt people, hurt dalam arti gini, kalau dia melanggar norma atau dia korupsi atau apa, dia harus dikemplang gitu,” ujar Dino.
Dino menilai, sikap terlalu sungkan atau enggan mengambil risiko dapat membuat seseorang kehilangan kendali dalam menjalankan kepemimpinan.
“Banyak orang yang nggak enakan gitu ya, saya melihat juga banyak menteri ya, akhirnya apa, dia dipimpin bukan memimpin. Karena dia nggak punya konsep, nggak enakan, terus nggak mau merubah, nggak mau ngambil risiko,” katanya.
Bagi Dino, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memimpin dapat berkembang seiring bertambahnya pengalaman dan tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan kemampuan yang statis, melainkan sesuatu yang dapat terus dibangun dan disempurnakan.
“Percayalah, leadership itu adalah muscle, otot yang bisa dibangun dan bisa disempurnakan,” tegas Dino.
Ia menambahkan, kemampuan tersebut juga berkembang pada para pemimpin melalui proses belajar sepanjang perjalanan kepemimpinannya.
“So, it's a muscle that can be trained and developed,” pungkasnya.
Baca Juga: Dino Patti Djalal: Leadership Adalah Skill yang Bisa Dilatih, Bukan Sekadar Bakat