Growthmates, banyak orang menganggap kepemimpinan merupakan bakat alami yang hanya dimiliki segelintir orang. Namun, Pakar Kebijakan Luar Negeri sekaligus Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, memiliki pandangan berbeda.
Menurutnya, meski tidak semua orang bisa menjadi sosok pemimpin legendaris seperti Nelson Mandela atau Lee Kuan Yew, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan memimpin.
Dino menegaskan, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang semata-mata ditentukan oleh bakat sejak lahir. Sebaliknya, leadership merupakan ilmu, keterampilan, dan disiplin yang dapat dipelajari serta terus diasah melalui pengalaman.
"Nobody can be a Mandela, nobody can be a Lee Kuan Yew. But, leadership itu adalah ilmu, skill, dan disiplin yang bisa diajarkan, dilatih, dan diasah. Saya yakin sekali itu," tegas Dino, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribdinya @dinopattidjalal, Kamis (30/7/2026).
Lebih lanjut, Dino pun mengibaratkan proses belajar menjadi pemimpin seperti belajar bermain tenis. Tidak semua orang akan mampu mencapai level atlet dunia seperti Roger Federer atau Rafael Nadal, tetapi siapa pun dapat meningkatkan kemampuannya melalui latihan yang konsisten.
"Jadi, nggak bisa kita jadi Roger Federer atau Nadal. But, we can play, we can learn to be a better tennis player," katanya.
Dino juga membagikan pengalaman pribadinya selama berkarier. Kini berusia 61 tahun, ia mengungkapkan bahwa sebagian besar perjalanan profesionalnya justru dihabiskan sebagai staf atau pengikut sebelum akhirnya dipercaya memimpin sebuah tim.
Baca Juga: Memaknai Servant Leadership Ala Jahja Setiaatmadja: Pemimpin Bukan Sekadar Panglima Perang