Namun, laju digitalisasi juga membawa konsekuensi, yakni meningkatnya risiko siber. Interdependensi antar pelaku industri makin kuat, sehingga sistem menjadi lebih rentan terhadap serangan.

“Serangan siber, kebocoran data, dan penipuan kini meningkat baik dari sisi frekuensi maupun kompleksitas. Secara global, sektor keuangan adalah target utama serangan cyber,” tegas Farida.

Ia pun lantas menggambarkan bagaimana para penjahat siber kerap memanfaatkan momentum libur panjang untuk melakukan serangan.

“Saya sering bilang ke teman-teman di Bank Indonesia, every time we have holiday, it's a harvesting time for the fraudster. Holidays become not really holiday nowadays,” ucapnya.

Farida menekankan, keamanan bukan lagi beban atau pelengkap, melainkan penggerak strategis bagi inovasi. Tanpa keamanan, inovasi kehilangan makna dan kepercayaan publik pun mudah runtuh.

Menurutnya, risiko siber yang terus berevolusi dapat menghambat inovasi, memengaruhi iklim investasi, bahkan mengancam stabilitas pasar keuangan.

Karena itu, industri harus membangun kesiapan internal yang kuat, mulai dari teknologi, kompetensi SDM, tata kelola, manajemen risiko, hingga business continuity plan. Namun, upaya ini tidak bisa dilakukan sendirian.

“Industri dapat memanfaatkan dukungan regulator, mulai dari regulasi, panduan, hingga berbagai alat asesmen. Kolaborasi antara industri dan regulator akan menciptakan resiliensi yang jauh lebih kuat,” kata Farida.

Baca Juga: BI Siapkan Blueprint Sistem Pembayaran 2030 untuk Perkuat Keamanan Siber dan Kedaulatan Digital Nasional