Menurut Vidjongtius, istilah ‘mau repot’ memiliki makna yang luas. Sikap tersebut dapat terlihat dari kemauan seseorang untuk terus belajar, mencari informasi tambahan, hingga membangun kolaborasi dengan orang lain.

“Karena saya sudah lewati masa itu. Mau repot itu artinya banyak. Apakah you mau belajar enggak? Mau cari informasi tambahan enggak? Mau kerja sama dengan orang lain enggak? Itu mau repot,” tuturnya.

Ia juga mengaitkan sikap tersebut dengan konsep jemput bola, yaitu kemauan seseorang untuk tidak hanya menunggu pekerjaan atau kesempatan datang, tetapi aktif mengambil inisiatif.

“Jadi istilah jemput bola itu mau repot,” katanya.

Bagi Vidjongtius, budaya tersebut juga perlu dibangun melalui keteladanan. Karena itu, ia menekankan pentingnya prinsip lead by example, terutama ketika seorang pemimpin ingin mendorong timnya untuk berani mengambil peran lebih besar.

“Kembali lagi, saya senang sekali dengan namanya lead by example. Karena contoh itu nyata,” ujar Vidjongtius.

Dikatakannya, ketika karyawan melihat contoh nyata dari lingkungan kerja dan pemimpinnya, keberanian untuk mengambil tantangan dapat tumbuh dengan sendirinya. Hal tersebut salah satunya tercermin dari karyawan yang justru antusias ketika mendapatkan kesempatan masuk ke proyek baru.

“Jadi contoh-contoh ini yang menjadi satu bukti, seorang, malah orang tidak menolak proyek. Orang, kapan saya ke bagian proyek baru?” katanya.

Vidjongtius menambahkan, pola pikir positif semacam itu masih ia lihat pada talenta-talenta yang berada di Kalbe.

Baginya, kemauan untuk belajar, mengambil tanggung jawab, dan terlibat dalam berbagai proyek merupakan bagian penting dari proses seseorang dalam membangun pengalaman serta membuka peluang karier.

Baca Juga: Vidjongtius Ungkap Strategi Kalbe Farma Mendorong Inovasi dan Ekspansi