Meski demikian, lanjut Prof. Zubairi, faktor keturunan juga tidak bisa diabaikan. Risiko diabetes memang lebih tinggi pada individu yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tersebut.
Namun, Prof. Zubairi menegaskan bahwa faktor genetik bukanlah vonis mutlak. Pola hidup sehat tetap dapat menekan kemungkinan terjadinya diabetes.
“Kalau orang tuanya diabetes, risiko anaknya meningkat. Tetapi risiko itu bisa dicegah dengan hidup sehat, dengan olahraga teratur,” jelasnya.
Ia pun menekankan pentingnya menjaga tubuh tetap aktif dalam keseharian. Mengurangi waktu duduk terlalu lama dan rutin berolahraga menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa saja.
“Keep moving, yang penting tidak boleh terlalu banyak duduk lama. Setengah jam duduk, berdiri. Kalau lebih dari sejam ya jalan-jalan dulu,” sarannya.
Prof. Zubairi juga menambahkan bahwa olahraga bisa dilakukan kapan saja, selama dilakukan secara konsisten.
“Olahraga pagi boleh, sore boleh. Yang penting harus teratur," ujarnya.
Pada akhirnya, kata Prof. Zubairi, perubahan gaya hidup menjadi kunci utama dalam menghadapi meningkatnya kasus diabetes di usia muda.
Dengan menjaga pola makan, rutin bergerak, serta mengontrol berat badan, risiko penyakit ini dapat ditekan. Prof. Zubairi pun optimistis bahwa kesadaran akan hidup sehat akan membawa dampak positif bagi masyarakat luas.
“Dengan gaya hidup sehat itu saya yakin masyarakat Indonesia ke depan akan jadi lebih kuat, lebih sehat, panjang umur, dan produktif,” tutupnya.
Baca Juga: Benarkah Hubungan Intim Bisa Picu ISK? Ini Penjelasan Dokter Ahli