Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) periode 2016–2019, Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong, menyoroti berbagai persoalan yang dinilainya tengah membebani Indonesia secara bersamaan.
Mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tekanan pasokan energi, kenaikan harga pupuk, hingga lemahnya penciptaan lapangan kerja, sederet tantangan tersebut dinilai berpotensi memperberat kondisi ekonomi masyarakat.
Dalam perbincangan bersama Rory Asyari, yang dikutip dari akun Instagram @room.4improvement, Rabu (4/11/2026), Tom menyebut, Indonesia tengah menghadapi sekitar tujuh hingga delapan persoalan yang datang bertubi-tubi.
Ia memaparkan, salah satu masalah yang menjadi perhatian adalah karhutla, disusul krisis energi serta persoalan pasokan dan harga bahan bakar, termasuk bahan bakar nabati (BBN) dan LPG.
“Karhutla, krisis energi, sulitnya pasokan maupun harga BBN. LPG, harga pupuk naik 50%-100%,” papar Tom.
Menurut Menteri Perdagangan di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo itu, kenaikan harga pupuk juga berpotensi menimbulkan persoalan lanjutan di sektor pangan. Tekanan biaya produksi pertanian dapat menjadi tantangan bagi petani, sementara dampaknya terhadap pasokan dan harga pangan perlu diantisipasi.
Tom juga menyoroti tekanan suku bunga dolar dan bunga obligasi, yang menurutnya menambah daftar persoalan ekonomi nasional. Di tengah berbagai tekanan tersebut, kondisi ketenagakerjaan turut menjadi perhatian.
Ia menilai, persoalan lapangan kerja bukan hanya menyangkut sulitnya masyarakat memperoleh pekerjaan, tetapi juga stagnasi pendapatan bagi mereka yang sudah bekerja.
“Orang bukan hanya sulit cari kerjaan, tapi yang dapat kerjaan pun penghasilannya cenderung stagnan. Downgrading bahkan sekarang kita. Bahkan downgrading,” katanya.
Pernyataan tersebut menyinggung fenomena penurunan kualitas pekerjaan atau job downgrading, yang dapat tercermin dalam ketidaksesuaian pekerjaan dengan keterampilan, penurunan kualitas pekerjaan, maupun terbatasnya peningkatan pendapatan. Namun, kondisi tersebut perlu dilihat lebih lanjut melalui data ketenagakerjaan untuk mengetahui skala dan penyebabnya.
Baca Juga: Lebih Dekat dengan Tom Lembong, Ekonom Ulung di Balik Pidato-pidato Fenomenal Jokowi