Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mendorong penguatan kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan pembuat kebijakan untuk menghadirkan kebijakan publik yang berbasis kajian ilmiah, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta berdampak nyata bagi pembangunan Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Ibas dalam kunjungannya ke Herb Feith Centre, Monash University, Melbourne, Australia, dalam pertemuan bersama mahasiswa Indonesia, perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), serta sivitas akademika pada Sabtu (17/10/2026).

Baca Juga: Jika Pilpres Digelar Hari Ini Prabowo Jadi Ayam Sayur, Dilibas KDM Digilas Gibran Ditekuk AHY!

Baca Juga: Gibran Dikasih Tenggat 30 Hari untuk Mundur, DPR dan MPR Didesak Mulai Proses Pemakzulan

Dalam sambutannya, Ibas menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus berperan sebagai mitra strategis dalam menjawab berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, gagasan dan hasil penelitian dari lingkungan akademik perlu dihubungkan dengan proses penyusunan kebijakan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Negara membutuhkan pandangan dari para ahli, kampus, dan kajian-kajian akademis. Saya berharap gagasan yang dihasilkan oleh mahasiswa, peneliti, dan akademisi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi berbagai persoalan kehidupan masyarakat,” ujar Ibas dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).

Akademisi dan Generasi Muda Sebagai Mitra Pembangunan

Ibas menilai, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju, terlebih dengan jumlah generasi muda yang besar dan bonus demografi yang tengah berlangsung. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, inovasi, serta penciptaan kesempatan kerja yang memadai.

Ia mengingatkan bahwa tantangan generasi muda tidak hanya berkaitan dengan akses pendidikan, tetapi juga kesiapan memasuki dunia kerja, biaya hidup, ketersediaan hunian, ketahanan pangan, dan kebutuhan energi.

Karena itu, pembangunan sumber daya manusia harus menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang bangsa. Mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan pengalaman internasional, tetapi juga mampu membawa pulang gagasan, jejaring, dan inovasi yang bermanfaat bagi Indonesia.

Sebagai lulusan Curtin University di Australia, Ibas juga mengajak mahasiswa Indonesia untuk memanfaatkan pengalaman belajar di luar negeri sebagai bekal untuk berkontribusi bagi masyarakat dan memperkuat hubungan Indonesia dengan negara tempat mereka menempuh pendidikan.

Ia turut mengingatkan generasi muda untuk tidak terjebak dalam persaingan individual semata. Kemajuan bangsa, menurutnya, membutuhkan persatuan, kolaborasi, dan kemampuan untuk mengelola perbedaan secara konstruktif.

“Bangsa yang maju tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang memiliki pemikiran sama. Kita membutuhkan ruang dialog, pendalaman gagasan, dan diskusi yang sehat agar dapat menemukan solusi yang lebih baik bagi Indonesia,” tegasnya.