Popularitas Presiden Prabowo Subianto terus merosot, kemerosotan itu bahkan semakin tak terbendung karena berbagai faktor. Dalam survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) masyarakat diketahui semakin tidak menginginkan Prabowo untuk kembali memimpin Indonesia satu periode lagi. 

Dalam simulasi yang dilakukan, Prabowo sebagai calon petahana bahkan mendadak jadi ayam sayur lantaran kalah telak dari sejumlah figur jika Pilpres digelar saat survei dilangsungkan.

Baca Juga: Polemik Ijazah Gibran, Jokowi Berkelit Pakai Gaya Lawas, Ahmad Khozinudin Langsung Kasih Wejangan!

Peneliti SMRC, Saidiman Ahmad mengatakan simulasi yang dilakukan pada survei yang digelar pada 1 hingga 10 Oktober 2026 itu menunjukkan Prabowo kalah dari anak buahnya di Gerindra yakni Kang Dedi Mulyadi (KDM) bahkan ia juga kalah dari Gibran Rakabuming Raka dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) serta Anies Baswedan. 

"Jika pemilihan presiden dilakukan sekarang, besar kemungkinan Prabowo Subianto tidak akan terpilih kembali," kata Saidiman Ahmad dilansir Olenka.id Minggu (18/10/2026).

Dalam simulasi semi terbuka, responden diberi daftar 24 nama tokoh dan boleh menuliskan nama lain di luar daftar itu. Hasilnya, Prabowo hanya didukung 9,8 persen. Survei yang digelar lewat teknik wawancara itu  melibatkan 1.213 responden yang dipilih secara acak.

Sebanyak 1.013 di antaranya diwawancara lewat telepon, dan 200 lainnya secara tatap muka untuk menjangkau warga yang tidak memiliki telepon seluler. Margin of error survei ini sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pada sisi lain, Anies Baswedan menjadi figur yang bersaing keras dengan Prabowo dengan  capaian dukungan 10,3 persen sementara Gibran Rakabuming Raka berpotensi menyalip Prabowo dengan meraih 8,4 persen dukungan. 

Dedi Mulyadi menjadis satu-satunya figur yang melibas seluruh nama yang disertakan dalam survei itu dengan memperoleh dukungan sebesar  35,5 persen. 

Dalam simulasi head to head dengan Dedi Mulyadi, Prabowo hanya didukung 18,8 persen, sementara Dedi 69,3 persen. Padahal pada survei Februari–Maret 2026, Prabowo masih unggul 50,5 persen berbanding 42,6 persen. Pada Juli 2026 keadaan berbalik: Dedi naik menjadi 59 persen dan Prabowo turun ke 28,3 persen.

“Pada survei di Oktober 2026 ini, jaraknya makin lebar. Dalam delapan bulan, posisi Prabowo merosot dari unggul menjadi tertinggal lebih dari 50 poin,” beber Saidiman Ahmad. 

"Mungkin ada yang berpikir bahwa suara Prabowo hanya diambil Dedi Mulyadi, yang juga kader Gerindra. Kalau Dedi tidak maju, bukankah suaranya akan kembali ke Prabowo?," tambahnya.

SMRC kata dia telah menguji kemungkinan ini dengan simulasi tiga nama tanpa Dedi: Prabowo, Gibran, dan AHY.

Hasilnya, Gibran mendapat 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen. Sisanya, 19,4 persen, tidak menjawab. 

Dugaan itu ternyata keliru. Gibran dan AHY bersaing ketat satu sama lain, tetapi keduanya sama-sama unggul atas Prabowo. 

Tanpa Dedi pun, sang petahana tertinggal dari dua politisi yang jauh lebih muda. Hilangnya Dedi dari arena tidak dengan sendirinya mengembalikan pemilih ke pangkuan Prabowo.

Yang juga menarik, mayoritas pemilih partai tidak mendukung Prabowo, termasuk pemilih partai-partai yang elitnya sudah mendeklarasikan dukungan dua periode, seperti Gerindra, Golkar, PAN, dan PKB.

Dalam simulasi semi terbuka, hanya 20 persen pemilih Gerindra yang memilih Prabowo, sementara 74 persen memilih calon lain. Di kalangan pemilih Golkar angkanya 17 persen, PAN 8 persen, dan PKB 4 persen.

Di luar koalisi pendukung, angkanya Nasdem 11 persen, Demokrat 6 persen, PDIP 6 persen, dan PKS 2 persen. Jumlah sampel per partai memang terbatas, tetapi polanya konsisten: di partai mana pun, Prabowo tidak menjadi pilihan mayoritas.

Bahkan jika banyak pemilih Gerindra beralih ke Dedi, sesama kader partai, itu tetap berarti satu hal. Deklarasi elite tidak otomatis diikuti oleh pemilihnya sendiri.

Dari sini terlihat bahwa publik umumnya memang sudah tidak menginginkan Prabowo menjabat dua periode. Persoalannya bukan semata karena muncul figur yang sangat cemerlang. Ketika figur itu disingkirkan dari simulasi pun, Prabowo tetap tertinggal.

Baca Juga: Tuding Ada Operasi Politik Merusak Citra Anaknya, Jokowi Langsung Dikasih Paham Denny Indrayana: Reputasi Gibran Memang Jelek Kok!

Elite partai bisa berkoalisi dan mendeklarasikan dukungan jauh-jauh hari, tetapi suara pada akhirnya ada di tangan pemilih. Pemilih menimbang dari apa yang mereka alami sehari-hari dan dari cara pemerintahan dijalankan. Angka-angka ini adalah pesan mereka, dan pesan itu semakin jelas dari bulan ke bulan.