Pengendalian hama dan penyakit menjadi faktor penentu produktivitas kelapa sawit. Serangan organisme pengganggu dapat menurunkan hasil hingga puluhan persen dan memicu kerugian ekonomi yang besar.
Isu ini dibahas dalam Sesi 6 Hai Sawit Simposium 2026 yang mengangkat pemanfaatan teknologi dalam pengendalian hama dan penyakit. Sesi ini menghadirkan Dr. Dedek Haryadi, Romzi bin Ishak, dan Rais Andersen, serta dimoderatori oleh Supriadi.
Para narasumber memaparkan pendekatan terbaru untuk menjaga produktivitas di tengah berbagai tantangan di lapangan.
Tantangan dan Ancaman di Perkebunan Sawit
Perkebunan kelapa sawit menghadapi sejumlah tantangan yang saling berkaitan dan berdampak langsung terhadap hasil produksi. Penurunan produktivitas, tingginya biaya operasional, cuaca yang tidak menentu, serta serangan hama dan penyakit menjadi faktor utama yang perlu dikendalikan.
Baca Juga: BPDP Dukung Hilirisasi Sawit Lewat Partisipasi di Hai Sawit Simposium 2026
Saat ini, rata-rata hasil tandan buah segar berada di kisaran 17,77 ton per hektare. Angka tersebut masih berada di bawah potensi optimal tanaman, sehingga peluang peningkatan produktivitas melalui pengelolaan yang lebih efektif masih terbuka lebar.
Ancaman utama berasal dari penyakit busuk pangkal batang, ulat pemakan daun, kumbang badak, dan tikus. Keempatnya diketahui dapat menurunkan hasil secara signifikan apabila tidak ditangani sejak dini.
Dr. Dedek Haryadi secara khusus menyoroti serangan ulat kantong di perkebunan sawit. Ia menegaskan, “Serangan ulat kantong dapat menyebabkan defoliasi hingga 50 persen dan penurunan hasil mencapai 40 persen jika tidak dikendalikan.”
Pendekatan Pengendalian Terpadu
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan melalui tiga tahap utama, yakni pencegahan, pemantauan, dan intervensi. Pendekatan ini menekankan tindakan berbasis kondisi lapangan agar lebih tepat sasaran.
Romzi bin Ishak menjelaskan, “Perosak dan penyakit memberi kesan ekonomi yang signifikan kerana secara langsung menjejaskan hasil dan kualiti tanaman.”
Baca Juga: HIPMI Dorong Hilirisasi Sawit di Sektor Pangan
Ia menambahkan bahwa metode pengendalian tidak dapat dilakukan secara tunggal. “Pendekatan terbaik adalah menggabungkan teknik biologis, mekanis, kultur, dan kimia agar hasilnya lebih efektif dan terukur,” ujarnya.
Pemanfaatan Teknologi dalam Pengendalian
Teknologi menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian modern. Sistem peringatan dini dan aplikasi digital digunakan untuk memantau kondisi tanaman secara real time.
Rais Andersen menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi tersebut. “Dengan peta digital dan sistem monitoring, kita bisa mengetahui lokasi serangan secara spesifik sehingga respons bisa lebih cepat dan tepat,” jelasnya.
Selain itu, penggunaan drone semakin luas dalam operasional perkebunan. “Penggunaan dosis yang tepat melalui teknologi penyemprotan modern terbukti lebih efektif dalam menekan populasi hama dibandingkan metode konvensional,” tambahnya.
Pengendalian Biologis sebagai Solusi Jangka Panjang
Pendekatan biologis dinilai mampu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia. Pemanfaatan mikroba seperti Trichoderma terbukti membantu menekan perkembangan penyakit di tanah.
Dalam pengendalian ulat kantong, penggunaan predator alami menjadi solusi untuk menjaga populasi tetap stabil dalam jangka panjang. Pendekatan serupa juga diterapkan dalam pengendalian tikus dengan memanfaatkan burung hantu sebagai musuh alami.
Dampak Ekonomi dan Efektivitas
Kerugian akibat serangan hama dan penyakit dapat mencapai ribuan ringgit per hektare setiap tahun. Hal ini menunjukkan besarnya dampak ekonomi jika pengendalian tidak dilakukan secara optimal.
Penerapan teknologi dan pendekatan terpadu terbukti mampu menekan kerugian sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan. Selain itu, pendekatan ini juga mendukung praktik perkebunan yang lebih berkelanjutan.
Pengendalian hama dan penyakit pada kelapa sawit kini bergerak menuju sistem terpadu berbasis teknologi. Pemanfaatan data digital, drone, serta agen biologis dinilai mampu meningkatkan akurasi pengendalian sekaligus menjaga stabilitas produksi dalam jangka panjang.