Pemanfaatan teknologi digital kian menjadi fokus dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit. Hal ini mengemuka dalam sesi kedua Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 yang membahas penggunaan smartphone, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta konsep smart plantation untuk mendorong intensifikasi produksi.

Forum ini mempertemukan praktisi dari Indonesia dan Malaysia yang memaparkan pengalaman langsung di lapangan. Pembahasan tidak hanya berhenti pada konsep, tetapi juga menitikberatkan pada implementasi nyata yang telah diterapkan di masing-masing perusahaan.

Baca Juga: Olenka dan BPDP Gelar SWOT di Bekasi, Kupas Manfaat Sawit yang Dekat dengan Keseharian

Industri kelapa sawit saat ini berada pada fase transformasi. Tekanan produktivitas, keterbatasan tenaga kerja, serta tuntutan global terhadap keberlanjutan mendorong pelaku industri untuk beralih ke sistem yang lebih efisien, modern, dan terintegrasi secara digital.

Ketua Umum Himpunan Profesi Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI), Syarif Rafinda, menegaskan bahwa industri tidak lagi dapat berjalan dengan pendekatan konvensional. Ia mendorong pelaku usaha untuk berani bertransformasi melalui kolaborasi dan integrasi teknologi.

“Forum ini bukan sekadar acara, tetapi menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengalaman lapangan dengan perkembangan teknologi,” ujar Syarif.

Baca Juga: Menjawab Tantangan Traceability di Industri Sawit Nasional

Senada, Ketua Panitia HASI 2026, M. Gema Aliza, menyatakan bahwa simposium ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan.

“Banyak profesional sawit memiliki pengalaman besar, tetapi belum memiliki ruang untuk berbagi secara terbuka dan setara,” katanya.

Ia menambahkan, forum ini diarahkan sebagai wadah untuk belajar, berbagi, sekaligus membangun kolaborasi antarpelaku industri.

Baca Juga: Mengupas Dampak Hilirisasi Kelapa Sawit

Dari sisi pemerintah, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, menyebut industri kelapa sawit memiliki peran strategis terhadap ekonomi nasional dan global. Produksi minyak sawit Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 53,6 juta ton, sementara Malaysia berada pada kisaran 19–20 juta ton.

Kedua negara tersebut menyumbang sekitar 80–85 persen pasokan minyak sawit dunia, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja yang mencapai lebih dari 16 juta orang.

Sesi diskusi ini menghadirkan Marlon Sitanggang dari PT Union Sampoerna Triputra Persada, Mohd. Sahir bin Yaacub dari Felda Plantation Management Sdn. Bhd., serta Harry Indrawan Hasibuan dari PT Iweka Digital Solusi. Diskusi dipandu oleh Darussalam selaku Ketua Harian DPP HIPKASI.

Baca Juga: Upaya Riset Sawit IPB Kurangi Beban Impor

Marlon Sitanggang menekankan pentingnya data sebagai fondasi peningkatan produksi.

“Jangan berbicara intensifikasi produksi jika tidak memiliki basis data yang kuat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sistem seperti e-block management mampu mengintegrasikan data produksi, aktivitas lapangan, hingga rekomendasi teknis dalam satu platform. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai laporan, tetapi juga sebagai alat kontrol operasional di lapangan.

Pemanfaatan smartphone turut mempercepat proses digitalisasi. Pencatatan aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dilakukan secara real time, mulai dari data panen, inspeksi, hingga kualitas buah. Dengan demikian, perusahaan dapat memantau kondisi produksi secara lebih cepat dan akurat.

Baca Juga: Komitmen Industri Sawit Wujudkan Ekonomi Hijau

Mohd. Sahir bin Yaacub menyoroti dampak digitalisasi terhadap efisiensi kerja. Ia menyebut bahwa penerapan teknologi mampu meningkatkan kapasitas tenaga kerja sekaligus mengurangi ketergantungan pada kertas.

“Biaya awal memang tinggi, tetapi penggunaan kertas berkurang dan kapasitas kerja meningkat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penyesuaian sistem operasional agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga: Industri Sawit Menjadi Pilar Penting Penyokong Ekonomi

Sementara itu, Harry Indrawan Hasibuan menjelaskan peran AI dalam mendukung analisis di perkebunan, termasuk dalam mendeteksi kondisi tanaman dan potensi penyakit.

Menurutnya, tingkat akurasi AI sangat bergantung pada jumlah data yang digunakan. “Semakin banyak data, semakin akurat hasilnya,” kata dia.

Moderator Darussalam menegaskan bahwa teknologi tidak dapat berdiri sendiri. Ia mengingatkan bahwa manajemen dasar harus dibenahi sebelum mengadopsi sistem digital. Tanpa fondasi yang kuat, penggunaan teknologi tidak akan memberikan hasil optimal.

Diskusi ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan di sektor perkebunan mulai beralih ke pendekatan berbasis data. Sistem digital memungkinkan pemantauan aktivitas secara terintegrasi, mulai dari produksi hingga distribusi.

Dalam konteks global, penerapan teknologi juga berkaitan dengan tuntutan transparansi dan ketertelusuran rantai pasok, yang menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri sawit di pasar internasional.

Melalui pemanfaatan smartphone, AI, dan konsep smart plantation, perusahaan memiliki peluang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat kontrol operasional tanpa harus memperluas lahan. Namun, keberhasilan transformasi ini tetap bergantung pada kesiapan data dan kedisiplinan dalam penerapannya di lapangan.