Peta politik menuju Pilpres 2029 mulai diwarnai berbagai spekulasi. Salah satu skenario yang kini mencuat adalah kemungkinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berkoalisi dengan Anies Baswedan untuk menghadapi kontestasi lima tahunan tersebut.
Skenario itu disampaikan Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga. Ia menilai peluang tersebut terbuka apabila posisi Dedi di internal Partai Gerindra semakin terpinggirkan, terutama jika elektabilitasnya terus berada di atas Ketua Umum Gerindra sekaligus Presiden RI Prabowo Subianto.
Menurut Jamiluddin, kondisi tersebut berpotensi membuat Gerindra mengambil sikap terhadap Dedi.
"Gerindra bisa saja tidak menginginkan bila ada kader Gerindra yang elektabilitasnya lebih tinggi dari Prabowo. Kader seperti itu bisa saja akan diasingkan di internal Gerindra. Dedi bisa saja tidak diberi peran strategis di Gerindra," ujar Jamiluddin dalam keterangannya, dikutip Senin (17/8/2026).
Baca Juga: Kisah Gubernur Dedi Mulyadi Jadi Tukang Cetak Undangan Sewaktu SMA
Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, Jamiluddin memperkirakan Dedi tidak akan tinggal diam. Ia menilai pengalaman Dedi yang pernah berpindah dari Golkar ke Gerindra menunjukkan bahwa perpindahan partai bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.
"Kalau hal itu terjadi, bisa saja Dedi akan melakukan perlawanan. Dedi bisa saja berlabuh ke partai lain untuk mewujudkan ambisi politik," katanya.
Jamiluddin kemudian melihat peluang tersebut bisa semakin terbuka jika wacana penghapusan presidential threshold benar-benar terealisasi. Dengan ambang batas pencalonan presiden menjadi nol persen, ruang bagi tokoh-tokoh politik untuk mencari kendaraan dan membangun koalisi baru akan semakin besar.
Dalam situasi tersebut, ia membuka kemungkinan Dedi memilih berlabuh bersama Anies Baswedan.
"Salah satunya bisa saja Dedi bergabung dengan Anies Baswedan untuk maju pada Pilpres 2029. Dua sosok ini akan sangat kuat bila bersatu. Setidaknya dua sosok ini dapat membius kalangan religius dan nasionalis untuk mendukung mereka," ujar Jamiluddin.
Menurutnya, arah politik Dedi pada akhirnya akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana Gerindra memperlakukannya. Jika Dedi merasa tidak mendapatkan ruang yang cukup di partai, kemungkinan mencari jalur politik lain dinilai semakin terbuka.
Spekulasi tersebut tidak muncul begitu saja. Elektabilitas Dedi dalam sejumlah survei terbaru memang menunjukkan posisi yang cukup kuat.
Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada akhir Juli 2026, misalnya, menempatkan Dedi di posisi teratas dalam simulasi semi terbuka dengan elektabilitas 35%. Prabowo berada di posisi berikutnya dengan 14,5%.
Dalam simulasi head to head, selisih keduanya bahkan semakin lebar. Dedi memperoleh 59% dukungan, sedangkan Prabowo berada di angka 28,3%.
Baca Juga: Skenario Pilpres 2029: Prabowo Disebut 'Siapkan' Teddy Jadi Cawapres Gibran
Hasil serupa juga terlihat dalam survei Indikator Politik Indonesia. Dedi tercatat unggul dalam simulasi elektabilitas, meski tingkat pengenalan publik terhadap Prabowo masih lebih tinggi, yakni 98,8% berbanding 88,2%.
Menariknya, tingkat kesukaan terhadap Dedi justru jauh lebih tinggi. Dedi mencatat angka 88,3%, sementara tingkat kesukaan terhadap Prabowo berada di 68,1%.
Meski demikian, berbagai skenario tersebut masih sebatas analisis dan proyeksi politik. Pilpres 2029 masih cukup jauh, sehingga dinamika partai, elektabilitas tokoh, serta konfigurasi koalisi masih sangat mungkin berubah.