Pengamat politik Hendri Satrio (Hensa) menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) sedang merasa ditinggalkan rombongan Presiden Prabowo Subianto, di posisinya saat ini yang dihimpit berbagai masalah mulai dari persoalan ijazah sarjana miliknya hingga ijazah SMA milik Gibran Rakabuming Raka, Jokowi merasa sangat terdesak, pada sisi lain kubu Prabowo Subianto justru tak mau ambil pusing pasang badan.
Karena alasan tersebut, Jokowi kata Hensa memilih mengumumkan status keanggotaannya di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada akhir September di Bandung, Jawa Barat. Pemilihan waktu dan tempat itu penuh kalkulasi politik.
“Kenapa Pak Jokowi kemudian mengumumkan September 2026 ini bahwa dia menjadi bagian dari PSI? Ini karena dia merasa terisolasi. Menurut catatan saya, dia merasa terisolasi, ditinggalkan,” ujar Hensa dilansir Olenka.id Kamis (1/10/2026).
“Kok bergulir ya kasus ini? Kok enggak ditahan ya? Kok double attack ya? 'Ke saya juga, ke anak saya juga. Kok didiamkan ya? Kok gue enggak dibelain ya?' Dia diserang, merasa diserang menurut saya,” tambahnya.
Pengumuman status keanggotaanya di PSI bukan sekadar ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah merupakan bagian dari partai tersebut, ini sekaligus sebagai pesan buat Prabowo. Jokowi tak mau dianggap enteng.
“Dia merasa ingin dilihat sebagai kekuatan baru yang tidak bisa dianggap remeh. Oke, lu bisa mengisolasi gue, tidak ikutan bicarakan threshold, tapi jangan meremehkan saya. Saya punya kendaraan, dan ini bisa jadi kekuatan baru,” tuturnya.
Jokowi memilih mengumumkan status keanggotaanya di Bandung Jawa Barat, padahal itu bisa saja dilakukan di tempat lain misalnya saja di kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah.
Pemilihan Bandung sebagai lokasi mendeklarasikan diri bukanlah hasil pemilihan lokasi secara acak atau hanya kebetulan semata , ada hitung-hitungan politik yang sebelumnya telah dipikir masak-masak.
Semua orang tahu, bahwa Bandung merupakan salah satu basis suara Partai Gerindra yang dibesut Prabowo atau dengan kata lain Bandung adalah sarang garuda merah istilah yang merujuk pada lambang partai Gerindra.
Dari kota dingin itu, Jokowi sedang mengirim pesan ke istana kepresidenan, bahwa dirinya siap mengepung dan merebut Bandung dari tangan Prabowo pada Pemilu 2029. Jokowi sudah terang-terangan menabuh genderang perang melawan Prabowo.
“Kenapa harus di Bandung? Kenapa harus di Jawa Barat? Jadi dia ingin berkomunikasi ke penguasa hari ini bahwa saya ada di kandang Anda. Ingat lho, Jawa Barat itu kandangnya Pak Prabowo,” ujar Hensa.
Peristiwa ini mengonfimasi bahwa Prabowo dianggap menjadi lawan yang sangat kuat bagi kubu Jokowi, Prabowo lebih sulit dikalahkan ketimbang PDI-Perjuangan, untuk itu Jokowi memilih mengesampingkan permusuhannya dengan Megawati dan fokus pada Prabowo.
“Kalau dia mau berhadapan dengan mereka, dia umumkan di Jawa Tengah. Tapi kenapa dia enggak umumkan di Solo? Kalau dia umumin di sana, pasti dampaknya enggak besar. Tapi ini Jawa Barat, kandangnya Prabowo,” kata dia.
Kendati kerap tampil romantis di hadapan publik, namun Jokowi dan Prabowo sebetulnya diam-diam telah pisah jalan. Jokowi menyadari permusuhan keduanya meruncing setelah putranya Gibran Rakabuming Raka diperkarakan di Mahkamah Konstitusi. Dalam masalah itu, Prabowo dan para pendukungnya sama sekali tak mau ambil pusing sehingga terkesan Gibran dibiarkan menghadapi masalah berat itu seorang diri.
“Lantas saya pernah bilang, belum saatnya ada permusuhan Jokowi dan Prabowo. Tapi dengan adanya isu threshold kemarin, kemudian pengadilan tentang Gibran. Saya rasa dia mulai menyadari,” kata Hensa.
Baca Juga: Politik Nasi Goreng Part III yang Tertunda: Kapan Mega-Prabowo Duduk Semeja Lagi?
“Apakah kemudian ini tandanya dia pisah jalan dengan Prabowo? Saya tidak ingin mengatakan pisah jalan, tapi dia sedang membangun jalannya sendiri, jalannya yang baru,” tambahnya memungkasi.