Nama Dedi Mulyadi menjadi pembicaraan publik dalam beberapa bulan belakangan ini setelah sejumlah lembaga survei nasional menempatkan dirinya menjadi salah satu figur dengan popularitas paling mentereng sebagai salah satu kandidat calon pada Pilpres 2029 mendatang. 

Spekulasi Dedi Mulyadi menjadi lawan terkuat Prabowo di Pilpres 2029 mulai muncul dengan skenario Gubernur Jawa Barat itu merapat ke kubu Joko Widodo dan maju bareng Gibran Rakabuming Raka. Pasangan imajiner Dedi Mulyadi-Gibran itu sempat ramai dibahas di media sosial. 

Baca Juga: Belajar dari SBY yang Melepas JK, Pola Prabowo Tentukan Cawapres di Pilpres 2029 Mulai Terbaca, Gibran Berpotensi Didepak!

Namun asumsi liar itu dipatahkan pengamat politik Adi Prayitno. Baginya sangat mustahil jika Dedi Mulyadi maju melawan Prabowo dalam hajatan nasional lima tahunan itu. Asumsi ini terlampau dini, masih sangat prematur untuk dibahas setidaknya untuk saat ini. 

"Kalau Dedi Mulyadi, saya selalu mengatakan bahwa memang tidak rasional dan tidak tepat kalau Dedi Mulyadi itu dipersepsikan akan maju, apalagi head-to-head dengan Pak Prabowo Subianto di 2029," kata Adi dilasir Olenka.id dalam tayangan YouTube Adi Prayitno Official Rabu (30/9/2026).

Adi tentu tidak asal berbicara tanpa landasan yang kuat, asumsi ini muncul selaras dengan sikap Dedi Mulyadi yang selama ini selalu dengan terbuka mengatakan bahwa dirinya tegak lurus terhadap Prabowo. Sebagai kader Gerindra yang notabene adalah anak buah Prabowo, Dedi Mulyadi siap bekerja mendukung langkah politik Prabowo untuk merengkuh kursi RI I untuk kedua kalinya. 

"Mengingat per hari ini Dedi Mulyadi itu adalah kadernya Gerindra. Per hari ini Dedi Mulyadi selalu mengatakan terus dan tegak lurus bersama Gerindra dan Pak Prabowo Subianto," ujarnya.

Di Gerindra Dedi Mulyadi bukan sekadar kader bisa, ada jabatan dan tanggung jawab berat yang diletakan di pundaknya, hingga kini ia tercatat sebagai  Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra. Jabatan yang seharusnya membuat Dedi Mulyadi pikir-pikir lagi untuk mengkhianati Prabowo. 

Meski begitu, di dalam politik sesuatu yang dianggap mustahil bisa terjadi secepat kilat. Dedi bisa saja angkat kaki dari Gerindra menjelang 2029, apa bila itu terjadi maka kemungkinan dirinya berhadapan dengan Prabowo bisa terjadi. Namun melihat rekam jejak politik Dedi Mulyadi, peluang meninggalkan Gerindra sangat kecil. Dedi adalah politikus setia yang tegak lurus pada partai yang membesarkan namanya. 

"Baru kemudian bicara tentang peluang, kesempatan, dan sangat mungkin misalnya akan head-to-head dengan Pak Prabowo Subianto," ungkap Adi.

"Sepanjang Dedi Mulyadi itu masih bersama dengan Gerindra, selalu bersama dengan Gerindra mendukung penuh Pak Prabowo Subianto, tak ada jalan ceritanya bagi Dedi Mulyadi untuk bisa maju di 2029," tambahnya. 

Skenario yang paling mungkin terjadi di Pilpres 2029 kata Adi adalah menggaet Dedi Mulyadi sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo. Kombinasi keduanya bikin pasangan ini menjadi kekuatan yang hampir mustahil dikalahkan. Menurut Adi  peluang Dedi Mulyadi menjadi cawapres Prabowo sangat terbuka lebar. 

Baca Juga: Bukan Sekadar Omon-omon, Pernyataan Jokowi Soal Banyak yang Ciut Lihat PSI adalah Fakta, Ini Buktinya

"Kecuali ada takdir misalnya Pak KDM itu direstui dan disetujui oleh partai-partai koalisi pendukung Prabowo sebagai calon wakil presidennya, tapi bukan dalam konteks dihadap-hadapkan. Beda ceritanya kalau KDM keluar dari Gerindra, baru di situlah kemudian kita akan bicara bagaimana analisa dan peluang-peluangnya," pungkasnya.