Dedi Mulyadi menjadi salah satu figur yang paling disorot publik menjadi kandidat calon pada gelaran Pilpres 2029 mendatang. Maklum riwayat perjalanan politiknya tak pernah tercelah, pada sisi lain caranya memimpin Jawa Barat sebagai gubernur sukses memoles citranya dengan sangat manis, Dedi dalam sekejap telah memenangkan simpati publik dalam skala nasional. 

Elektabilitasnya moncer di setiap hasil survei, bahkan dalam beberapa penelitian, elektabilitas kader Gerindra ini justru lebih  gacor dari Prabowo Subianto, ketua umum Gerindra sekaligus Presiden RI. 

Baca Juga: Menghitung Peluang Dedi Mulyadi di Pilpres 2029: Kans Jadi Cawapres Prabowo Terbuka Lebar!

Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Doktor Selamat Ginting mengatakan kans Dedi Mulyadi maju sebagai calon presiden sangat terbuka lebar. Tak hanya sekadar menjadi calon pelengkap, peluang kemenangannya pun tergolong tinggi, namun keputusan maju sebagai calon presiden tentu harus dibayar mahal. Dedi mesti keluar dari Gerindra dan bahkan melawan Prabowo Subianto dalam hajatan nasional lima tahunan itu. 

Tetapi Dedi bukan politikus kemarin sore, semua peluang itu jelas sudah ia kalkulasikan, makanya hingga kini ia memilih bertahan di Gerindra seraya mengklaim tegak lurus kepada partai dan juga Prabowo Subianto. Dedi masih belum bergeming kendati digoda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk dipasangkan dengan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon presiden dan calon wakil presiden di Pilpres mendatang. 

Dedi sedang berpolitik pakai cara paling aman, dengan bertahan di Gerindra ia menjadi lebih leluasa menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, baik dengan poros Solo atau dengan Anies Baswedan atau Pramono Anung, dua gubernur DKI Jakarta yang digadang-gadang bakal ikut meramaikan bursa Pilpres 2029 nanti. 

"Menurut saya KDM (Kang Dedi Mulyadi) kemungkinan juga tidak terlalu terburu-buru untuk pindah dari Gerindra ke PSI karena secara strategi, posisi paling kuat justru kalau dia tetap sebagai kader Gerindra tetapi dia bisa membuka komunikasi dengan poros apa saja," kata Ginting dilansir Olenka.id dari saluran YouTube Forum Keadilan TV Rabu (30/9/2026). 

Memilih masih bertahan di Gerindra hingga kini, bukan berarti Dedi Mulyadi tak pernah hengkang. Dalam politik merangkul dan berkhianat adalah hal-hal yang dimaklumi, itu bukan dosa melainkan strategi menuju kursi kekuasaan. 

Dedi Mulyadi diperkirakan tidak bakal bertahan di Gerindra hingga 2029, kelak ia bakal memilih jalannya sendiri baik itu bersama Anies Baswedan atau Pramono Anung sebagai poros alternatif. Dedi Mulyadi tinggal memilih siapa pantas mendampingi dirinya menjadi calon wakil presiden di Pilpres mendatang. 

“Sangat mungkin Pramono-KDM dipasangkan, Pramono-Anies dipasangkan tinggal mana yang lebih populer," ujar Ginting. 

Munculnya poros alternatif yang melibatkan Dedi Mulyadi tidak bisa dianggap enteng, Prabowo sebagai calon petahana yang sudah diuntungkan banyak aspek saja harus menghitung ulang langkah politiknya, kesalahan hitung harus dibayar dengan kekalahan. 

Baca Juga: Politik Nasi Goreng Part III yang Tertunda: Kapan Mega-Prabowo Duduk Semeja Lagi?

"Ini menakutkan juga bagi Prabowo begitu, ini pasti Prabowo menghitung peluang-peluang ini," pungkas Ginting.