Tekanan terhadap market Indonesia terus berlanjut pada perdagangan awal pekan ini. Di pasar bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak melemah menuju level 5.000.
IHSG melemah lebih dari -2% hingga menyentuh level terendah di 6.014 tak lama setelah pembukaan perdagangan bursa Selasa (29/9/2026). Pelemahan IHSG kali ini memperdalam koreksi dalam sebulan terakhir yang mencapai -8,82% atau -30,38% secara year to date (ytd).

Selain di pasar bursa, tekanan terhadap market Indonesia juga tercermin dari pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS pada Selasa pagi. Berdasarkan pantauan Olenka, dolar AS sempat menekan rupiah hingga ke level Rp18.012 per dolar AS.

Berkenaan dengan kondisi market Indonesia, Bank Indonesia (BI) telah lebih dulu mewaspadai tekanan terhadap nilai tukar rupiah di tengah berbagai sentimen negatif, seperti penguatan dolar AS, lonjakan imbal hasil aset AS, serta bergesernya arus modal dari negara berkembang menuju negara maju.
Baca Juga: Dibayangi Ketidakpastian Global, Begini Ramalan BI untuk Nilai Tukar Rupiah
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebut bahwa pengetatan kebijakan moneter hingga fenomena higher for longer berpotensi kian menekan stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kita akan menghadapi situasi yang dinamakan higher for longer yang pada akhirnya memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia," ungkap Destry Damayanti, Senin (28/9/2026).
Pada saat yang sama, lanjut Destry, dolar AS kian perkasa ditopang olah kebijakan moneter global yang tetap ketat. Hal ini membuat aset AS menjadi jauh lebih menarik bagi para investor. Kondisi ini meningkatkan risiko keluarnya arus modal dari pasar negara berkembang sekaligus memberi tekanan ekstra pada mata uang lokal, termasuk rupiah.
BI mencatat, nilai tukar rupiah bergerak melemah ke level Rp 17.855 per dolar AS pada 22 September 2026. Angka tersebut menunjukkan pelemahan rupiah mencapai -0,78% dibandingkan periode Agustus 2026.
Untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi, BI memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%.
"Bank Indonesia akan merespons tantangan tersebut melalui bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi," tegas Destry.
Tak hanya itu, BI juga terus memperkuat intervensi valuta asing lewat transaksi NDF di pasar offshore, serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik guna membentengi nilai tukar rupiah supaya tak semakin tertekan.
BI juga mendorong masuknya modal asing melalui perluasan insentif lindung nilai (hedging) serta memperluas kerja sama transaksi Local Currency Transaction dengan negara mitra demi mengikis ketergantungan terhadap Dolar AS.